Home Advisory Green Investment Items filtered by date: October 2010
Wednesday, 20 October 2010 15:46

Mungkinkah Terjadi Merger Antara AOL dan Yahoo?

Saat ini terdapat enam situs dengan tingkat kunjungan dan jumlah pengguna terbesar dunia, Facebook, Google, Yahoo, Microsoft, AOL danTwitter. Facebook dan Twitter jelas merupakan jaringan social media, Google adalah raja mesin pencari (search engine), sedangkan Yahoo, Microsoft, dan AOL masih tampak menjadi "situs serba ada" bagi semua orang. Dalam perkembangan bisnis di sektor teknologi, Microsoft telah bersiap untuk bersaing dengan Google dalam bisnis mesin pencari dengan melakukan investasi di Bing. Facebook memperkuat layanan kepada pengguna dengan menambah fasilitas telephone bekerja sama dengan Skype. Sementara itu Yahoo dan AOL, masing-masing fokus pada konten, dan layanan iklan (display advertising), mesin pencari keduanya dilakukan dengan menggunakan outsorcing. Kabar terakhir, Yahoo dan AOL yang banyak memiliki kesamaan memiliki rencana strategis untuk melakukan merger. Apa alasan merger? Bagaimana rencana merger tersebut?



Photo credit: Businees Week

Sebuah laporan dari The Wall Street Journal mengatakan AOL bersama dengan beberapa perusahaan private equity (PE), antara lain Blackstone dan Silver Lake, mempertimbangkan membuat tawaran untuk membeli Yahoo. Jika Blackstone dan Silver Lake tidak jadi bergabung, masih ada beberapa perusahaan PE yang berminat untuk melanjutkan rencana AOL mengkuisisi Yahoo. Dalam laporan itu dikatakan perundingan akuisisi Yahoo telah memasuki tahap awal (preliminary stage).

Keterlibatan perusahaan PE jelas sangat strategis, karena nilai perusahaan AOL adalah hanya USD 2,7 milyar sedangkan Yahoo memiliki nilai hampir 10X lipat dari AOL yaitu sebesar USD 20,6 milyar. Angka tersebut berdasarkan data dari laporan keuangan triwulan ketiga tahun ini. Terlepas dari rencana akuisisi AOL, ada beberapa alasan mengapa harus terjadi merger antara AOL dan Yahoo, dikutip dari Business insider, antara lain:

  •  Yahoo dan AOL keduanya dalam bisnis yang sama
  • Ada duplikasi besar dari layanan dan koten AOL dan Yahoo
  • AOL tidak cukup besar untuk bertahan hidup sendiri
  • Memotong biaya operasional ratusan juta dollar
  • Menghilangkan pesaing utama bagi kedua perusahaan
  • Membuat platform yang meningkatkan skala distribusi untuk konten digital
  • Membuat pengiklan semakin sedikit memiliki pilihan platform untuk menampilkan iklan

Secara umum para analis ragu akan terjadi merger antara AOL dan Yahoo, karena perbedaan kapitalisasi pasar antara keduanya sangat jauh. Selain itu, kepemilikan Yahoo atas aset berharga di Asia seperti Yahoo Jepang dan Alibaba di Cina akan menjadi rintangan paling sulit untuk terwujudnya kesepakatan. Yun Kim, analis riset dari Gleacher and Company mengatakan bahwa faktor aset Asia, khususnya Alibaba menjadi faktor penghalang terjadinya akuisisi AOL terhadap Yahoo. Nilai Alibaba sekitar USD 10 milyar dan kepemilikan Yahoo sebesar 30 persen di perusahaan tersebut setara dengan USD 3 milyar. Karena membutuhkan dana tunai yang sangat besar hal tersebut tidak cocok dengan model private equity.

Clay Moran, analis The Benchmark Company, mengatakan selain kedua aset-aset Asia yang membuat kesepakatan ini kurang mungkin terjadi. Dia juga mengatakan ada rintangan lain yang akan menggagalkan merger ini terjadi. Moran mengatakan bahwa Dewan Direksi Yahoo tidak mungkin melikuidasi aset cukup besar dan berharga yang dimiliki. Pendapat Clay Moran cukup kuat, karena Yahoo memiliki sikap kuat atas kepemilikan Alibaba.
Penolakan rencana Alibaba melakukan buyback saham oleh Dewan Direksi Yahoo patut menjadi pertimbangan bagi AOL dan perusahaan PE jika ingin melakukan akuisisi.

Terlepas dari semua keraguan, seperti yang diungkapkan oleh para analis tersebut di ibtimes. Proses merger antara AOL dan Yahoo masih terbuka mengingat beberapa alasan merger yang telah disebutkan sebelumnya. Dibalik sikap kuat Dewan Direksi Yahoo, sebetulnya ada isyarat bahwa Yahoo membuka diri untuk tawaran merger. Penolakan terhadap rencana Microsoft mengakuisisi Yahoo dengan penawaran harga saham Yahoo sebesar USD 33 per lembar saham, telah mengakibatkan Jerry Yang digantikan oleh Carol Bartz sebagai CEO Yahoo. Dengan demikian, siapa yang beruntung melakukan merger dengan Yahoo? Apakah AOL dengan dukungan perusahaan PE seperti Blackstone dan Silver Lake? Atau Microsoft yang dulu pernah ditolak oleh Yahoo pada kesempatan pertama?



Published in Insight & Analysis
Friday, 08 October 2010 15:16

Facebook Melesatkan Konsumsi Listrik*

Belakangan ini perhatian dunia bisnis global tertuju pada desakan lembaga-lembaga lingkungan dunia terhadap manajemen Facebook untuk membangun sekaligus menggunakan listrik berbasis renewable energy. Ini terkait dengan besarnya kebutuhan listrik untuk menjalankan operasional Facebook, baik secara langsung maupun tidak langsung. Facebook digunakan lebih dari 500 juta orang dan memiliki aset yang diperkirakan mencapai US$ 20 milliar, sehingga wajar jika konsumsi listrik yang digunakan sangat besar.

Menurut perhitungan para ahli, konsumsi listrik Facebook diprognosiskan mencapai 1,97 juta MW sampai dengan tahun 2020. Jumlah ini merupakan ratusan kali lipat dari total proyek pembangunan listrik yang sedang dibangun di Indonesia. Dari data yang dimiliki oleh Guardian menyatakan bahwa total konsumsi listrik Facebook tersebut kurang lebih sama besarnya dengan total pemakaian listrik saat ini untuk empat negara, yakni Perancis, Jerman, Kanada, dan Brasil.

Trade off Ekonomi

Facebook sebagai social media telah menjadi bagian dari rutinitas sebagian manusia di dunia. Melalui Facebook, seseorang mengelola jaringan sebagian jaringan pribadi dan bisnis. Dalam perkembangan ICT sampai saat ini, Facebook memainkan peranan yang sangat penting di samping berbagai aplikasi lainnya. Saat ini, setidaknya lebih dari 1 juta aplikasi ICT yang digunakan dalam membantu berbagai aktivitas, mulai kegiatan pribadi, bisnis, sampai dengan urusan keamanan negara.

Perkembangan yang pesat ini pada satu sisi telah memberikan maanfaat yang besar, namun di sisi lain menimbulkan trade off, yakni menambah porsi kebutuhan listrik yang relatif besar. Data mengenai kebutuhan listrik untuk ICT di seluruh dunia belum diketahui secara pasti. Namun saat ini diperkirakan jumlah kebutuhan pasokan listrik atas perkembangan ICT di seluruh dunia mencapai 100 juta MW. Jumlah kebutuhan ini sekitar setengah persen dari total kebutuhan listrik dunia yang sebesar 20 miliar MW.

Kebutuhan listrik untuk ICT tersebut telah menciptakan lapisan baru. Jika dulu, kebutuhan listrik untuk ICT menjadi satu bagian dengan kebutuhan lainnya, namun sekarang ini ICT memiliki peranan yang sama besarnya dengan sektor lainnya. Fenomena ini mau tidak mau akhirnya mengambil porsi baru atas penggunaan energi yang selama ini dari sisi pasokan masih berbasiskan minyak bumi dan batu bara. Dengan demikian, perkembangan pesat ICT yang ada sekarang akhirnya turut berperan dalam peningkatan emisi karbon sekaligus pemanasan global kian meningkat.

Trade off yang tersebut sebenarnya patut diantipasi, karena kehadiran ICT sendiri sebenarnya didesain sebagai solusi atas berbagai permasalahan. Berpijak pada trade off inilah, maka berbagai pihak di seluruh dunia mendesak korporasi-korporasi di sektor ICT untuk mendesain produknya untuk lebih efisien dalam penggunaan energi sekaligus yang memakai renewable energy sebagai bagian dari bahan bakar yang dipakainya.

Era Ekonomi Baru

Dengan menggabungkan perkembangan pesat ICT nan canggih yang berbasiskan renewable energy ini diharapkan akan memberikan kontribusi yang sangat besar dalam perekonomian bukan hanya di tingkat negara tetapi juga dunia. Green yang menitikberatkan pada kebersihan lingkungan dalam menjalankan aktvitas bisnis, serta ICT dengan kecanggihan yang ada menjadi era baru perekonomian.

Greenitnomics (Green & IT Nomics) tersebut tidak hanya memberikan berbagai efisiensi dan efektivitas atas kegiatan bisnis tetapi juga akan langsung berperan dalam mengurangi dampak perubahan iklim. Berbagai efisiensi dan efektivitas bisnis yang secara agregat akhirnya memberikan kontribusi besar dalam pertumbuhan PDB tidak akan ditebus dengan anggaran belanja sangat besar bagi penanganan dampak perubahan iklim. Era ekonomi baru ini akan memberikan manfaat riil bagi masyarakat dunia.

Berdasarkan data dan informasi yang ada di berbagai negara, Greenitnomics ini telah diimplementasikan walaupun porsinya masih minoritas. Realitas bisnis yang berpijak pada peraturan yang telah ditetapkan oleh negara tersebut diperkirakan akan terus mengalami trend kenaikan. Hasil yang demikian ini tidak terlepas dari pemikiran dan penentuan strategi inovatif berbagai korporasi ICT untuk menggabungkan hasil produk mereka sebagai solusi tanpa menimbulkan masalah baru.

Selain dari sisi internal perusahaan, trend yang terjadi tersebut karena beberapa negara memang secara tegas mengariskan adanya praktik bsinis yang bersih terhadap lingkungan. Di China, pemerintahnya beberapa waktu yang lalu telah mengumumkan akan menutup 2.000 pabrik yang berpolusi tinggi, memiliki manajemen limbah yang buruk, dan boros energi. Dikarenakan kebijakan ini jugalah yang membuat tiga BUMN asal China dalam minggu lalu dipastikan akan merekolasi aktivitas bisnisnya senilai US$ 3,7 miliar ke Indonesia.

Sedangkan di Amerika Serikat, pemerintah setempat pada awal 2010 juga telah mengharuskan berbagai perusahaan ICT berbasis web untuk mengalokasikan renewable energy bagi pembangkit listrik pada data storage centre yang sedang dibangunnya. Regulasi ini pula yang menjadi salah satu pertimbangan manajemen Facebook yang akhirnya memutuskan untuk mengalokasikan 12 persen renewable energy dalam proyek data storage centre yang akan dibangun oleh perusahaan listrik terkemuka AS, Pacific Power.

Bagaimana dengan Indonesia? Apakah di masa mendatang, Indonesia akan juga mengikuti trend Greenitnomics yang mulai berkembang saat ini? Banyak potensi yang ada di Indonesia sekaligus menjadi bekal berharga untuk menghasilkan berbagai manfaat. Dengan implementasi ini, maka perkembangan ICT dan lingkungan di Indonesia tidak akan saling menegasikan.

*) Artikel ini juga telah dipublikasikan di Harian Bisnis Indonesia pada 8 Oktober 2010

Published in Insight & Analysis