Home Advisory Items filtered by date: January 2011
Groupon, situs sosial yang menolak tawaran pembelian dari Google dengan nilai USD 6 miliar, dikabarkan sedang serius melakukan rencana penawaran umum perdana – initial public offering (IPO) tahun ini. Investment bankir menempatkan penilaian untuk Groupon USD 15 milIar atau lebih.



CEO Groupon, Andrew Mason
Photo credit: business insider


Kini Groupon tengah aktif berbicara dengan para investment bank dalam rencana IPO yang diperkirakan akan dilaksanakan di musim semi 2011, konfirmasi tersebut dilansir di New York Times. Pekan lalu, Andrew Mason, pendiri dan CEO Groupon berkata, "Kami senang bahwa Groupon telah menerima kepercayaan dari beberapa perusahaan yang paling dihormati di dunia investasi. Dengan dukungan mereka, kami akan melanjutkan misi kami untuk mengubah cara orang berbelanja di toko lokal dan melayani bisnis lokal di dunia." 

Penilaian sebesar USD 15 miliar ini merupakan suatu kejutan karena pada awal bulan ini Groupon berhasil mendapatkan dana USD 950 juta dari Kleiner Perkins dengan penilaian sebesar USD 4,75 miliar. Akhir tahun 2010 tidak lama setelah menolak tawaran dari Google, Groupon berhail meraih USD 500 juta dari konsorsium yang terdiri dari Digital Sky Technologies (DST), Fidelity dan Morgan Stanley. Pada saat itu, DST membuat valuasi perusahaan lebih rendah dari Kleiner Perkins yaitu sebesar USD 1,3 miliar saja.

Penolakan USD 6 miliar dari Google ternyata bukan ide buruk dan
aksi jual mahal Groupon. Bahkan sebelum Google mengajukan penawaran, Yahoo tertarik mengakuisisi Groupon dan dikabarkan menyiapkan dana USD 2 miliar. IPO Groupon menjadi tonggak sejarah bisnis Andrew Mason yang merintis Groupon tahun 2008 setelah gagal dengan The Point tahun 2007.

Jika IPO sukses maka hal tersebut merupakan sinyal yang baik untuk web startup dan dunia VC dalam suatu rangkaian seri suatu strategi bisnis. Perjalanan bisnis Groupon dalam dua tahun lebih dapat menjadi referensi bagi perusahaan startup. IPO Groupon menunjukkan seberapa jauh kepercayaan VC terhadap bisnis suatu perusahaan startup. Pelaksanaan IPO menjadi standar exit strategy bagi perusahaan startup jika terlibat kesepakatan dengan VC.

Demam bisnis digital di Indonesia akibat pengaruh globalisasi teknologi tentunya harus diimbangi dengan pemahaman yang mumpuni. Sudah banyak startup menjadi klon Groupon termasuk startup local Indonesia. Pelajaran yang sangat berharga dari rencana IPO Groupon untuk startup lokal adalah konsistensi mempertahankan rencana bisnis. Penolakan tawaran fantastis dari perusahaan digital yang lebih mapan dilakukan melalui perhitungan yang logis. Pemahaman atas skema kesepakatan atau deal dengan VC dan konsep-konsep keuangan terkait dengan pasar modal juga perlu dikuasai oleh startup lokal selain keunikan model bisnis.

Published in Insight & Analysis
Thursday, 06 January 2011 15:24

Rencana IPO LinkedIn Tahun 2011

LinkedIn, situs jejaring sosial untuk para profesional, berencana untuk go public pada tahun 2011 dan telah memilih penjamin emisi keuangan.



Photo credit: technmarketing


Menurut Reuters, LinkedIn telah memilih Morgan Stanley, Bank of America dan JPMorgan sebagai penjamin emisi keuangan atau underwriter pada bulan November lalu.

Berbeda dengan manajemen Facebook dalam menyampaikan rencana initial public offering - IPO, manajemen LinkedIn lebih lugas dalam menyampaikan rencana. Pada hari Rabu (05/01/11) seperti yang dilansir Reuters, juru bicara Linkedin menyebutkan bahwa IPO adalah sebagai salah satu dari sejumlah taktik yang dapat mempertimbangkan. 

Kilas balik tahun 2010 lalu, pada bulan Juni, manajemen LinkedIn menyampaikan rencana akuisisi untuk meningkatkan layanan mobile dan jumlah pengguna. Jumlah anggota LinkedIn per Mei adalah 45 juta. Setelah mengakuisisi mSpoke di bulan Agustus dan ChoiceVendor di bulan September, CEO LinkedIn mengeluarkan press release di bulan November bahwa jumlah pengguna telah mencapai 85 juta.

Keputusan LinkedIn untuk go public tahun ini terkait dengan rencana IPO Facebook tahun depan cukup tepat karena jika bersamaan atau setelah IPO Facebook maka perhatian investor mungkin akan berkurang kepada IPO LinkedIn.

Jika Facebook divaluasi sebesar USD 50 miliar maka berdasarkan data dari SharePost hari Minggu (09/01/11) situs LinkedIn memiliki nilai sebesar USD 2 miliar.

Terkait dengan kompetisi bisnis, menurut TechCrunch, situs LinkedIn memiliki kompetitor antara lain Xing, Doostang, dan Ecademy. Tetapi sesungguhnya situs Ushi dari China adalah pesaing paling kuat. Business Insider menyebutkan bahwa Ushi adalah salah satu dari sepuluh perusahaan digital Asia yang berhasil mempermalukan perusahaan digital Amerika terkait ekspansi usaha di Asia. Ushi berhasil membuat LinkedIn menyerah untuk menguasai pasar China yang memiliki potensi ratusan juta pengguna. 

Dengan dana IPO yang akan diraih, apakah LinkedIn akan kembali ke China untuk melanjutkan ekspansi usaha di Asia? Jika skenario tersebut terjadi tentu dengan mudah bisa ditebak startup lokal China yang akan meraih keuntungan.



Published in Insight & Analysis
Judul di atas merupakan sebuah dari beberapa pertanyaan penting yang mengusik pemikiran saya di awal 2011. Bahkan untuk memastikan arti definisi teknologi informasi dan komunikasi, saya harus meneliti berbagai referensi terkait agar definisi yang saya tangkap selaras dengan definisi terkini yang terdapat di ranah publik.


Namun setelah melihat berbagai referensi yang ada ternyata di ranah publikpun, definisi terkini dari teknologi informasi dan komunikasi belum selaras dengan perkembangan pesat dari berbagai bentukan yang lahir dan terkait erat dengan industri teknologi informasi dan komunikasi. Mengapa demikian? Ini dapat terjadi karena tiga faktor utama yaitu,

1. Terjadinya revolusi teknologi informasi dan teknologi komunikasi yang dikenal dengan istilah "techonological convergence" yaitu terjadinya proses dimana kedua industri ini melakukan kesamaan proses kerja dan tujuan. Sehingga menciptakan industri baru yaitu ICT (information and communications technology).

2. Terjadinya ledakan produk dan jasa yang lahir dan berasal dari konvergensi teknologi informasi dan teknologi komunikasi dalam dekade terakhir. Ini ditandai dengan lahirnya produk dan jasa yang digunakan secara simultan baik di komputer maupun di telepon bergerak.

3. Terjadinyakesenjangan antara hasil penelitian industri ICT dan kecepatan pertumbuhan di industri tersebut.

Satu tonggak sejarah yang terkait dengan investasi di industri teknologi informasi adalah runtutan peristiwa dotcom bubble dan dotcom crash. Runtutan peristiwa yang terjadi dari 1995-2000 ini ditandai dengan kebangkitan sektor ICT di pasar modal dunia, dimana terjadi ribuan IPO dari perusahaan di dunia ICT yang dilabel dengan istilah "technology start-up". Sehingga indeks di Nasdaq mencapai titik tertinggi pada penutupan market di 10 Maret 2000 pada 5048.62 (dotcom bubble). Kemudian dalam waktu kurang dari dua tahun, indeks ini jatuh menyentuh 1114.11 di 9 Oktober 2002 (dotcom crash).

Kini di 2011, beberapa pemikir strategis mulai melihat gelagat akan terjadinya ledakan kedua di industri ICT yang lebih dahsyat. Mengapa dahsyat?

1. Ini tidak lagi hanya industri informasi teknologi melainkan industri ICT. Suatu penggabungan antara investasi berbasis kapasitas intelektual dan teknologi perangkat lunak (software) yaitu teknologi informasi dan investasi berbasis asset, layanan massal dan teknologi perangkat keras (hardware) yaitu teknologi komunikasi.

2. Di dalam dunia investasi, ini merupakan kombinasi investasi terbaik antara asset-based investment, proprietary technology, research and development, dan global market. Kombinasi yang secara relatif mengalahkan nilai "competitive advantage" dari pharmaceutical industry dan oil and gas industry.

3. Produk dan jasa industri ICT akan melekat kepada semua manusia, semua industri dan merupakan jawaban kebutuhan efisiensi dan efektifitas komunikasi data, suara dan visual dari manusia. Suatu konsep yang belakangan ini ditandai dengan istilah "triple play" (voice, data and video)

Lalu perusahaan manakah yang berperan penting di industri ICT saat ini di tingkat global? Saya yakin hampir semua dari kita sangat familiar dengan Apple, Facebook, Wikipedia, Tweeter, Google, Yahoo, Microsoft, Groupon, Zynga, Skype, Flickr dan sederetan perusahaan lainnya. Namun masih banyak lagi yang berperan penting tapi lepas dari pengamatan kebanyakan publik di Indonesia.

Di dalam artikel The Digital 100 dari Business Insider (list dari 100 perusahaan digital terbaik di dunia), ada satu hal yang patut dicermati bagi kalangan investasi dan industri di Indonesia bahwa ada 3 perusahaan digital asal Cina yang masuk di ranking 12, 15 dan 28. Lalu apa istimewanya? Taobao yang di ranking 12 diperkirakan memiliki nilai sebesar USD 1.5 milyar dan begitu pula Tudou yang di ranking 15 memiliki nilai yang sama besarnya.

Lalu apa implikasinya terhadap Indonesia?
China dan Indonesia (disamping Rusia, India dan Brazil) merupakan negara-negara emerging yang memiliki populasi tertinggi di dunia. Maka jika kita teliti lebih lanjut tentang Taobao dan Tudou, bukanlah hal yang mengejutkan jika di 2011 ke depan, akan muncul raksasa digital dari Indonesia yang memiliki populasi lebih dari 200 juta manusia.

Di majalah Time edisi 23 Agustus 2010, terdapat artikel yang ditempatkan dalam topik Global Business, artikel ini memuat liputan terhadap beberapa pemilik dari perusahaan start up di Brazil yang sepak terjangnya telah membuat mereka dianggap memiliki potensi luar biasa dengan estimasi nilai perusahaan mulai dari puluhan juta hingga ratusan juta USD.

India bahkan telah lebih dulu menancapkan tonggak prestasinya di tingkat global dengan kehadiran Bangalore sebagai Silicon Valley of India.

Kembali lagi, lalu apa implikasinya terhadap Indonesia? Apa yang akan terjadi di industri ICT? Apa yang akan terjadi dengan keberadaan perusahaan terkait ICT di Bursa Efek Indonesia? Apa yang akan terjadi dengan dunia M&A (merger and acquisition di industri ICT?

1. Industri ICT di Indonesia akan memasuki era baru dimana terjadi pertumbuhan yang tinggi dan konsisten dalam beberapa tahun mendatang.

2. Investasi baik dari venture capital, angel investor, investment bank, private equity dan commercial bank akan mengalir deras ke industri ini.

3. Sebagian besar dari investasi tersebut akan bermuara di Bursa Efek Indonesia baik dalam bentuk IPO dan RTO.

4. Berbagai perusahaan terkait ICT yang merupakan perusahaan Terbuka (Tbk.) akan lebih gencar dalam melakukan kegiatan M&A sebagai cara pengembangan usaha di bidang ICT.

5. Terkait hal tersebut maka akan banyak perusahaan Tbk terkait ICT yang akan melakukan fund raising baik melalui Right Issue, Bond issuance dan bentukan lain untuk membiayai berbagai proyek investasi mereka.

6. Terjadi perubahan dimensi dan prioritas investasi ICT dari yang selama ini lebih terfokus ke arah infrastruktur akan mengarah kepada digital content sampai kepada rasio perimbangan sub sector yang lebih optimal.

7. Terjadi ledakan ringan yang kemudian berubah menjadi pertumbuhan tinggi secara konsisten di dunia technology startup. Fokus dan basis produk/layanan akan bervariasi terkait education, micro finance, locally global-globally local, payment gateway, social networking, engines berbasis Bahasa Indonesia, data center, disaster recovery center dan e-commerce.

8. Terjadi perubahan valuasi terhadap berbagai perusahaan Tbk. terkait ICT dimana perusahaan yang mampu memiliki investasi tambahan secara massive di digital content akan naik secara signifikan ditandai dengan kenaikan harga saham yang konsisten.

Tidak dapat dipungkiri bahwa untuk mencapai keberhasilan di industri ICT diperlukan suatu perjuangan dan kerja keras serta dukungan dari pemerintah. Sehingga artikel ini hanyalah suatu analsis yang diharapkan dapat menjadi referensi baik pelaku industri ICT, pelaku investasi di sektor riil maupun di Bursa Efek Indonesia serta publik.

Terakhir, saya ucapkan Selamat Tahun Baru 2011. Artikel ini adalah tanda ucapan terima kasih saya kepada seluruh teman, kerabat, pembaca dan publik atas perhatiannya terhadap aktivitas dan tulisan saya selama ini.



Published in Insight & Analysis