Items filtered by date: September 2010
Meniru Strategi Korporasi China*
Nilai akuisisi yang sebesar US$ 1,2 miliar akan menjadi aksi korporasi kedua terbesar Huaneng dalam dua tahun terakhir. Setelah sebelumnya, pada tahun 2008 Huaneng mengakuisisi Tuas Power Ltd. Singapore senilai US$ 3,1 miliar. Dengan aksi korporasi kali ini, Huaneng akan menguasai 12 hydro power plant dengan total kapasitas sekitar 8 MW yang sedang dalam proses pembangunan oleh InterGen di Inggris, Belanda, Mexico, Australia, dan Filipina.
Saat ini, selain dimiliki oleh GMR Intrastucture Ltd. India, 50 persen saham InterGen dimiliki oleh Ontario Teachers’ Pension Plan. GMR sendiri membeli InterGen pada tahun 2008 dari AIG Highstar II Capital, L. P. and affiliates yang kala itu sedang mengalami kesulitan keuangan.
Walaupun ini bukan merupakan aksi korporasi yang pertama kali bagi Huaneng, namun banyak pihak yang ingin mengetahui apa yang menjadi latar belakang perusahaan yang menyuplai lebih dari 10 persen kebutuhan listrik di China tersebut dalam mengakuisisi perusahaan berbasis renewable energy.
Huaneng merupakan perusahaan yang didirikan oleh Pemerintah China pada tahun 1985 dengan tujuan untuk menyuplai kebutuhan listrik di China. Dalam perkembangannya, struktur perusahaan Huaneng disesuaikan dengan sistem ekonomi China. Pada pertengahan dekade 1990-an, pemerintah China melakukan restrukturisasi atas perusahaan tersebut, di mana akibat restrukturisasi ini perusahaan menjadi berbasiskan sistem ekonomi pasar sosialis.
Saat ini, renewable energy menjadi salah satu fokus usaha dari Huaneng dan ini merupakan mandat yang diberikan oleh pemerintah China. Strategi ini perlu dilakukan karena sebagai konsumen energi terbesar di dunia, China tidak bisa mengandalkan pemenuhan energi dari energi berbahan bakar fosil.
Beberapa analis di Hongkong menyebut bahwa aksi korporasi ini masih bagian awal dan kemungkinan akan dilanjutkan oleh berbagai aksi korporasi lanjutan. Pendapat ini sejalan dengan strategi Huaneng dalam jangka menengah panjang yang telah menetapkan berbagai target strategis.
Pada tahun 2010, perusahaan menargetkan dapat meningkatkan pasokan listrik mencapai 80 GW. Dari sisi pendapatan, Huaneng menargetkan dapat meningkatkan pendapatan yang mencapai US$ 10 miliar di tahun 2010. Sedangkan dalam jangka menengah, yakni tahun 2020 Huaneng menargetkan dapat meningkatkan pasokan listrik menjadi sebesar 120 GW dengan peningkatan pencapaian pendapatan mencapai US$ 20 miliar.
Target pertumbuhan pasokan listrik Huaneng yang sebesar 40 GW selama 10 tahun atau ekuivalen dengan 4 ribu MW selama setahun. Jika dibandingkan dengan target pemenuhan pasokan listrik PLN sebesar 10 ribu MW selama lima tahun (atau 2 ribu MW selama setahun). Perlu diketahui pula bahwa selain Huaneng masih terdapat beberapa pemasok listrik besar di Cina.
Strategi Source of Fund
Kelebihan strategi Huaneng yang terlihat mudah memenuhi target pasokan lsitrik tersebut adalah source of fund. Selain adanya dukungan penuh pemerintah dalam peningkatan pasokan tersebut, ada juga strategi dalam menghimpun investor global. Minat investasi ini didukung oleh potensi kebutuhan pasar yang besar di masa mendatang, ROI yang menarik, dan mekanisme financing yang benar. Dengan strategi source of fund yang benar ini membuat Huaneng berani menetapkan target-target fantantis yang terukur sekaligus aplikatif.
Kiprah Huaneng dalam melakukan berbagai akuisisi perusahaan renewable energy wajar menjadi perhatian kalangan investasi dan keuangan dunia. Huaneng telah menjadi salah satu perusahaan yang agresif melakukan akuisisi di bidang renewable energy tidak saja di negaranya tapi merambah ke berbagai penjuru dunia.
Apakah alasan Huaneng melakukan akuisisi tersebut? Walaupun tidak ada jawaban yang pasti namun dapat ditengarai bahwa nilai pengembalian investasi yang menarik merupakan salah satu faktor utama. Kemungkinan lain adalah harapan akan penguasaan teknologi renewable energy, penguasaan pasar, dan memanfaatkan kesempatan terkait valuasi perusahaan renewable energy yang saat ini masih cukup rendah dibandingkan perusahaan di industri energi lainnya. Dengan kondisi yang demikian ini, ke depan akan terdapat trend kenaikan atas nilai pasar berbagai perusahaan renewable energy di seluruh dunia.
Akankah investasi di bidang renewable energy merubah peta preferensi investasi di tingkat global yang berakibat pada berubahnya minat investor di bidang pertambangan dan minyak? Atau sekali lagi, trend ini akan menyebabkan beberapa harga komoditi terkait renewable energy kian meningkat?
Cepat atau lambat, aksi serupa akan terjadi di Indonesia. Persoalannya adalah siapa dan apa yang akan memainkan peranan besar dalam pengembangan renewable energy di Indonesia. Sudah saatnya pemerintah melihat aksi BUMN China dan prospek renewable energy sekian langkah lebih serius dan lebih agresif.
*) Artikel ini juga telah dimuat di harian Kontan pada 20 September 2010
Yahoo Tidak Mau Menjual Kembali Saham di Alibaba
Photo credit: Businessweek
Penundaan Yahoo untuk menjual saham di Alibaba menyebabkan saham Yahoo naik lebih dari 4 persen. Alibaba, perusahaan induk dari alibaba.com dan Taobao. Aset Yahoo Asia asset juga meliputi 35 persen saham di Yahoo Jepang. Analis BCG, Colin Gillis berpendapat tentang jawaban Bartz yang merobohkan spekulasi dan saham Yahoo terus meningkat. "Ini menyoroti fakta bahwa Alibaba ingin kembali tonggak, hal tersebut positif, menunjukan anda punya pembeli."
Bartz mengambil alih jabatan tertinggi di Yahoo pada Januari 2009 dari co-founder Jerry Yang, yang masa jabatannya ditandai dengan penolakan Yahoo atas tawaran akusisi dari Microsoft senilai USD 47,5 miliar. Pada bulan Juli 2009, Bartz menandatangani kemitraan pencarian dengan Microsoft untuk periode 10 tahun. Kesepakatan itu menggeser Yahoo biaya pekerjaan pengindeksan back-end Web dari Yahoo ke Microsoft. Disisi lain, kolaborasi Yahoo dan Microsoft adalah untuk menghadapi pesaing kuat Yahoo, yaitu Google.
Carol Bartz, CEO Yahoo Inc. Photo credit: Adweek
Bartz mengatakan bahwa transisi dari sistem pencarian Internet perusahaan iklan dengan teknologi Microsoft Corp akan selesai pada akhir Oktober. Iklan versi mobile, meskipun merupakan pasar yang baru lahir, telah menjadi medan pertempuran berikutnya antara Yahoo dengan Google dan Apple. Kebijakan Yahoo untuk mempertahankan Alibaba dan sinergi antara Yahoo dan Microsoft merupakan upaya strategis Yahoo dalam menghadapi perang iklan versi mobile.