Home Development Trade Support Items filtered by date: March 2011
Moet Hennessy Louis Vuitton ataui lebih dikenal dengan LVMH dikabarkan mengkuisisi Bulgari dengan nilai 3,7 miliar euro atau setara USD 5,2 milIar. Akuisisi tersebut tidak saja menambah kilap bisnis LVMH tetapi juga memperluas eksposur ke pasar negara-negara berkembang. Berita kesepakatan Bulgari pertama kali dilaporkan oleh The Financial Times.



Photo credit: Bulgari

Nilai akuisisi tersebut merupakan nilai premium 60 persen terhadap harga saham rata-rata Bulgari akhir bulan lalu, menjadi pertanda bahwa bisnis di pasar barang mewah telah bangkit kembali dari kemerosotan tahun 2009.

Dengan lebih dari 60 merek dalam daftar barang super mewah seperti Christian Dior, Fendi dan Celine - LVMH dianggap sebagai kekuatan yang sangat kuat dalam dunia mode dan barang mewah, menawarkan barang mulai dari tas Louis Vuitton hingga champagne Dom Perignon.

Menurut New York Times, LVMH memanfaatkan kebangkitan di pasar konsumen barang high-end, pendapatan LVMH naik 19 persen dibandingkan tahun lalu, dengan nilai lebih dari 20 miliar euro (USD 28 miliar), sementara laba melonjak 73 persen, sampai 3 miliar euro (USD 4,2 miliar).

Bulgari, didirikan pada tahun 1884, telah lama dipandang sebagai target akuisisi karena memiliki potensi. Perusahaan memiliki pendapatan sekitar satu milar euro (USD 1,4 miliar) dibandingkan tahun lalu, meningkat sekitar 15 persen, penjualan meningkat pesat di pasar berkembang seperti China. Bulgari menarik sebagian besar penjualan dari Eropa dan Asia.

LVMH membeli 50,4 persen saham dari Bulgari dengan menerbitkan 16,5 juta saham LVMH. Sebagai gantinya, keluarga Bulgari akan memiliki 3,5 persen saham di LVMH dan menjadi pemegang saham terbesar kedua.

Setiap akuisisi aset keluarga yang dikendalikan biasanya melihat pembeli membayar premi yang cukup besar untuk meyakinkan keluarga untuk menjual. Kesepakatan Bulgari dinilai pada rasio nilai perusahaan terhadap penjualan sekitar 3 kali, dibandingkan dengan rasio kandidat lainnya yang berpotensi untuk diakuisisi seperti Burberry pada 2,7 kali dan Tiffany pada 2,3 kali,

Akuisisi Bulgari oleh LVMH membentuk aliansi strategis untuk menjadi pemimpin dunia di bisnis arloji dan perhiasan. Dalam strategi aliansi tersebut terdapat beberapa deal atau kesepakatan antara lain:

  • Keluarga Bulgari menyumbangkan saham mayoritas mereka (152,5 juta saham Bulgari) di Bulgari dalam suatu pertukaran untuk 16,5 juta saham LVMH yang baru diterbitkan.
  • Keluarga Bulgari menjadi pemegang saham terbesar nomor 2 di keluarga LVMH.
  • LVMH untuk kemudian meluncurkan tender penawaran tunai untuk semua saham yang beredar lainnya dengan harga 12,25 euro per saham Bulgari.
  • Francesco Trapani menjadi Direksi LVMH sebagai wakil dari saham Keluarga Bulgari.
  • Francesco Trapani memimpin aktivitas LVMH Watch & Jewelry (W & J) dan menjadi anggota Executive Committee.

Bulgari akan mendapatkan keuntungan dari jaringan global ritel dunia LVMH, meningkatkan marjin melalui pembagian biaya (cost-sharing) dan membantu LVMH menutup kesenjangan atau gap dengan perusahaan perhiasan dan arloji, Richemont dan Swatch.


A Landmark Transaction for LVMH W&J activities
Source: Bulgari


Bagi LVMH, aliansi strategis dengan melakukan akuisisi Bulgari melengkapi perjalanan aktivitas LVMH W&J selama satu dekade. Dengan melihat gambar di atas, terlihat bahwa aliansi strategis ini akan meningkatkan penjualan LVMH lebih dari 100 persen.

Setelah mengakuisisi Hermes dan Bulgari dalam waktu empat bulan. Aksi LVMH di dunia bisnis barang super-mewah seperti tidak ada pernah kehilangan energi. Yang menjadi pertanyaan, apakah LVMH tertarik dengan beberapa merek fesyen lokal Indonesia?

Published in Insight & Analysis
Facebook telah setuju untuk mengakuisisi Snaptu, pengembang aplikasi untuk perangkat mobile smartphone. Akuisisi ini merupakan upaya Facebook sebagai situs jaringan social media terbesar di dunia untuk fokus pada perluasan layanan mobile.




Menurut Reuters, nilai akuisisi yang dilakukan Facebook adalah USD 70 juta atau sekitar Rp 630 miliar untuk startup yang berbasis di London ini.

Ide pembuatan aplikasi Snaptu pertama kali dicetuskan oleh Ran Makavy pada bulan Agustus 2007 yang terinspirasi dari munculnya berbagai macam jaringan sosial dan maraknya penggunaan internet. Kemudian Ran Makavy mengajak rekannya, Simon Davies, untuk bekerja sama merealisasikan ide tersebut. Untuk mengatur rancangan dan konsep-konsep mengenai Snaptu, mereka dibantu oleh Lior Tal, Barak Naveh, dan Micha Berdicheysky. Setelah melalui proses yang panjang, Snaptu diluncurkan pada tanggal 12 Oktober 2008. Secara resmi Snaptu dibuat oleh perusahaan Moblica dan menggunakan Java ME sebagai platforms.

Teknologi Snaptu teknologi dirancang untuk membawa layanan web seperti Facebook, Twitter dan LinkedIn untuk digunakan di hamper semua jenis telepon beragam rancangan aplikasi. Keunggulan snaptu adalah menggunakan aplikasi berbasis Java yang mereplikasi banyak fitur aplikasi smartphone, sehingga jutaan orang yang tidak memiliki smartphone dapat tetap mengakses.

Secara singkat, alasan Facebook mengakuisisi Snaptu dengan nilai USD 70 juta karena teknologi yang dimiliki Snaptu telah terbukti diaplikasikan di lebih dari 2.500 perangkat mobile yang berbeda.

Akuisisi senilai USD 70 juta yang dilakukan Facebook ini jelas makin memperkuat posisi perusahaan di mata para investor dalam rangka persiapan penawaran perdana saham di bursa efek atau Initial Public Offering (IPO) Facebook yang diperkirakan akan dilaksanakan tahun depan.

Berita akuisisi Snaptu bisa menjadi masukan atau referensi bagi para pengembang di Indonesia atau para startup Indonesia untuk lebih memperhatikan strategi dari produk-produk yang dibuat dikaitkan dengan dinamika corporate action para raksasa digital dunia.

Andai ada Snaptu versi Indonesia dan digunakan oleh pengguna Facebook di Indonesia, yang merupakan pengguna terbanyak nomor 2 di dunia setelah Amerika Serikat dengan jumlah 35,174,940 menurut data checkfacebook, maka aplikasi buatan Indonesia tersebut pasti dilirik oleh Facebook.

Tetapi jikapun ada aplikasi buatan Indonesia, karaketeristik pengguna internet Indonesia yang masih lebih suka menggunakan produk luar negeri juga menjadi tantangan bagi para pengembang atau startup Indonesia.

Andai ada Snaptu versi Indonesia, dan didukung oleh 35 juta pengguna Facebook Indonesia maka USD 70 juta tersebut dipastikan masuk ke Indonesia. Mungkin kalimat ini bisa dikatakan mimpi. Tetapi tidak ada salahnya kita bermimpi dan diikuti dengan upaya realisasi.

"If you can dream it, you can do it." - Walt Disney

Published in Insight & Analysis
Tidak diragukan lagi, perusahaan-perusahaan venture capital kini banyak yang tertarik dengan investasi di bisnis cloud computing dan virtualisasi perusahaan. Tapi nilai investasi Goldman Sachs di AppSense sebesar USD 70 juta menunjukkan betapa menggoda bisnis cloud computing sekarang. Goldman Sachs tentunya mengharapkan pengembalian investasi yang besar, dengan perkiraan mereka bahwa pengguna virtualisasi akan tumbuh menjadi senilai USD 2 miliar beberapa tahun ke depan.



Photo credit: www.phoenixs.co.uk


Menurut eksekutif AppSense, Richard Jackson, AppSense berencana untuk menggunakan dana dari Goldman Sachs untuk mempercepat pertumbuhan mereka. AppSense merupakan solusi virtualisasi yang bergantung pada decoupling desktop dari perangkat keras, memungkinkan pelanggan untuk mengakses "komputer" mereka dari mana saja. Ini tidak sulit untuk melihat bagaimana hal itu bisa masuk ke dalam portofolio penyedia jasa cloud computing, dan tidak diragukan lagi bahwa bisnis cloud computing akan terus tumbuh, sehingga permintaan untuk solusi ini akan terus tumbuh.

Tahun 2010 lalu pendapatan AppSense meningkat sebesar 60 persen, dan menjual lebih dari 1,5 juta lisensi karena pengguna membayar lisensi untuk Microsoft dan McAfee. AppSense mengalami momentum pelanggan yang signifikan dan cepat memperluas portofolio lebih dari 4.000 pelanggan di seluruh dunia baik di sector swasta dan publik, yang terdiri dari merek global seperti British Telecom, ESPN, JP Morgan Chase dan United Airlines.

Penjualan 1,5 juta lisensi pengguna, termasuk bermitra dengan Fujitsu untuk menyediakan solusi manajemen desktop kepada Departmen for Works and Pensions (DWP) Inggris untuk lebih dari 1.000 lokasi dan lebih dari 140.000 pengguna di Inggris. Baru-baru ini, AppSense telah bekerjasama dengan Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat dalam penyediaan teknologi virtualisasi untuk infrastruktur virtual desktop di lembaga tersebut, layanan tersebut mendukung lebih dari 16.000 karyawan ditempatkan di lebih dari 25 negara.

Selain mengalami pertumbuhan basis pelanggan yang signifikan, AppSense juga mengalami pertumbuhan pendapatan global sebesar 60 persen, serta peningkatan tenaga kerja dengan lebih dari 40 persen. Kemitraan dengan sejumlah vendor besar termasuk Microsoft dan McAfee, dan meningkatkan pesanan dari pelanggan baru dan yang ada sebesar 80 persen dalam kuartal terakhir.

Hal-hal tersebut sudah cukup menarik bagi Goldman Sachs, untuk menjaga momentum pertumbuhan bisnis AppSense yang baik ini melalui penempatan dana investasi senilai USD 70 juta. Dalam investasi di AppSense ini, Managing Director Goldman Sachs, Perrone Pete akan bergabung dengan dewan eksekutif AppSense untuk membantu mengelola penggunaan dana investasi tersebut.

Published in Insight & Analysis
Andreessen Horowitz - perusahaan venture capital (VC) yang dimiliki oleh Marc Andreessen, co-founder Netscape - telah melakukan investasi sebesar USD 49 juta ke Jawbone, sebuah start-up pembuat gadget headset.



photo credit: financial times

Tujuan investasi yang dilakukan oleh Andreessen Horowitz adalah untuk membantu Jawbone, memperluas portofolio produk dan mendorong ekspansi ke pasar di negara-negara berkembang, menurut Hosain Rahman, CEO Jawbone yang dilansir DealBook. Selama 12 tahun Jawbone telah berhasil mengumpulkan dana sekitar USD100 juta dari berbagai investor, antara lain Sequoia Capital dan venture capitalist sekelas Vinod Khosla.

Walaupun ini adalah adalah investasi pertama Andreessen Horowitz di Jawbone, Ben Horowitz dan Marc Andreessen, telah melakukan investasi pribadi bersama di Jawbone pada akhir tahun 2006. Menurut Horowitz, pada saat itu, nilai investasi mereka sebagai angel investor sekitar USD 200 ribu saja.

Andreessen Horowitz tidak membuat investasi banyak di bisnis perangkat keras (hardware) – satu-satunya pengecualian adalah investasi di KNO, produsen tablet computer untuk pendidikan. Horowitz mengatakan bahwa hal yang menarik dari Jawbone adalah exposure untuk perangkat mobile dan teknologi suara miliknya. Jawbone terkenal sebagai produsen headset, juga speaker nirkabel dan perangkat lunak lainnya yang mendukung produk-produknya.

Lahan bisnis digital berbasis mobile, baik web maupun hardware menjadi semakin penting bagi berbagai perusahaan VC. Dimana sebagian besar VC telah melakukan investasi di perusahaan digital berbasis web, seperti Facebook, Zynga dan Twitter. Bulan lalu, Andreessen Horowitz memimpin putaran pembiayaan USD 18 juta dalam perusahaan start-up mobile gaming TinyCo.

Pengalaman Jawbone selama hampir satu dekade, dukungan dana dari VC, tren gaya hidup generasi digital dan tren bisnis digital itu sendiri, adalah merupakan perpaduan sempurna bagi Jawbone untuk mendominasi bisnis aksesoris digital. Apa yang dilakukan oleh Andreessen Horowitz, sebagai VC, merupakan langkah strategis dalam bidang investasi untuk memilih bisnis yang memiliki potensi bisnis sangat besar di masa depan.

Published in Insight & Analysis
Cisco mengumumkan bahwa mereka telah menyelesaikan transaksi akuisisi Pari Networks, perusahaan penyedia konfigurasi jaringan dan solusi manajemen perubahan, dalam upaya untuk melengkapi kemampuan 'smart sevice' dari perusahaan itu sendiri. Pengumuman tersebut dirilis Marketwire pada tanggal 2 Maret 2011 lalu.




Pari Networks, didirikan oleh sekelompok mantan eksekutif Cisco, berkantor pusat di Milpitas, California, Amerika Serikat dan memiliki kantor perwakilan di Amerika, Asia dan Eropa. dengan kantor-kantor penjualan di kota-kota metropolitan besar seperti Chicago, Denver, dan Kopenhagen. Basis karyawan Pari Networks sebagian besar ada di Hyderabad, India, Cisco menyatakan bahwa teknologi Pari Networks akan diintegrasikan ke dalam 'smart sevice' dan membantu mempercepat kemampuan perusahaan dan mitra-mitranya untuk mengelola stabilitas jaringan pelanggan melalui layanan personalisasi.

Cisco awalnya mengumumkan niat untuk membeli Pari Networks pada tanggal 26 Januari 2011. Nilai deal akuisisi tetap dirahasiakan, namun karyawan Pari Network menjadi bagian dari Cisco untuk departemen layanan teknis.

Published in Insight & Analysis
Imation, perusahaan developer global dan pemasar beragam produk bermerek yang memungkinkan pengguna untuk menyimpan dan melindungi informasi digital, menurut berita yang dirilis Techcrunch, telah mengakuisisi ENCRYPTX Corporation, perusahaan yang menyediakan solusi enkripsi dan keamanan untuk perangkat dan media penyimpanan.



Photo credit: anchorpaper


Akuisisi tersebut memperkuat portofolio Imation yang terdiri dari beragam produk-produk penyimpanan digital, elektronik audio dan video, dan aksesoris bermerek dengan kelas dunia. Portfolio Imation antara lain adalah Memorex dan XtremeMac selain merek Imation sendiri, nama-nama tersebut adalah merek terkenal aksesoris inovatif untuk produk iPod, iPhone, dan Apple TV. Imation juga merupakan pemegang lisensi eksklusif pada merek TDK Life Record, salah satu merek terkemuka di dunia media perekaman.

Berapa nilai akuisisi dan persyaratan dalam deal tersebut tidak diungkapkan, namun sekitar 10 karyawan akan transfer dari ENCRYPTX ke Imation.

Seperti yang dilansir Storage Newsletter, Lucas, CEO Imation mengatakan bahwa, "Tahun 2010, Imation telah membuat perbaikan operasional yang signifikan dan stabilisasi laba kotor produk. Sekarang dengan uang tunai USD 305 juta dan visi yang jelas, kami siap untuk memulai aksi strategis untuk membangun nilai jangka-panjang bagi para pemegang saham, karyawan dan konsumen."

Dengan demikian kegiatan akuisisi pertama kali bagi Imation merupakan bagian dari strategi perusahaan terkait pengelolaan dana. Aksi strategis perusahaan dalam pengelolaan uang tunai di tahun 2011 ini mencakup:
1) Investasi tambahan organik sebesar USD 15 juta,
2) Akuisisi, fokus kepada perusahaan developer perlindungan data dan scalable data area penyimpanan,
3) Restrukturisasi sekitar USD 40 juta,
4) Buyback saham, pembelian kembali saham dalam otorisasi dewan yang ada Perseroan sebesar 2,3 juta saham.

Transaksi ini mencakup portofolio solusi perangkat lunak dan properti intelektual yang memungkinkan perusahaan untuk melindungi, mengenkripsi, kontrol, dan mengelola data. Portofolio ENCRYPTX meliputi enkripsi, manajemen perangkat dan kontrol, dan solusi manajemen hak digital yang melindungi removable drive, flash drive, CD, DVD dan data untuk PC.

Akuisisi ENCRYPTX diperoleh Imation dari BeCompliant, yang sebelumnya mengakuisisi perusahaan pada bulan Maret 2007. ENCRYPTX sendiri awalnya didirikan pada tahun 1999. Perusahaan ini telah mengumpulkan lebih dari USD 7,5 juta dalam pendanaan sebelum diakuisisi oleh BeCompliant.

Published in Insight & Analysis

Halo semua,

Seiring dengan aktifitas saya dan rekan-rekan di Asia Strategic Advisory dalam menjalankan mandat dari USAID Indonesia dan Microsoft Indonesia untuk execute program IMULAI 3.0, saya banyak mendapatkan pertanyaan dari peserta mengenai data dan referensi yang dapat digunakan untuk membuat business plan proposal. Melihat banyaknya pertanyaan, saya tergerak untuk membuat suatu daftar link data dan referensi yang terkait dengan ICT di Indonesia.

Setelah obrak-abrik bookmarks saya dan juga google sana-sini, daftar link bisa dibuat dan saya putuskan untuk membaginya melalui blog ini. Memang masih kurang lengkap terutama untuk statistical data, tapi apa boleh buat, statistical data memang masih merupakan barang mewah di Indonesia This is sad because if we can't measure it, we can't manage it.

Anyway, list dapat dilihat di bawah ini. Saya akan coba update list tersebut ke depannya dan jika teman-teman punya link tambahan, silahkan untuk menambahkannya melalui comment box. Saya akan memberikan notifikasi mengenai update melalui account Twitter saya, so feel free to follow @andylaver on Twitter.

Semoga berguna :-) Maju terus, ICT Indonesia!

Andy Laver Sirait

Institutions with data and references:
Biro Pusat Statistik (BPS)
Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII)
Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi (Postel)
Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel)
Digital Divide Institute - Indonesia

Some statistical links:
Beberapa information charts di Mastel
Data statistic lama dari APJII (up to 2007)
Data statistic dari Postel

Direct links to relevant data, report and presentation:
Data Strategis BPS
Hasil Sensus Penduduk 2010 Data Agregat per Provinsi
Laporan Bulanan Data Sosial Ekonomi Februari 2011

The Internet’s New Billion - a report from Boston Consulting Group

Presentation files from "Connecting the Next Billion", 3-4 November 2010
1. Welcoming Address by Chairman of Mastel, Dr Setyanto P. Santosa (download)
2. Understanding and Tackling the Key Barriers to Telecoms and IT Access by Anindya N. Bakrie (download)
3. Exploring the Compelling Business Case for Connecting the Next Billion by Hasnul Suhaimi (download)
4. Telecommunications for Reconstruction and Development – The Roshan Story by Karim Khoja (download)
5. Opportunities For Extending Networks to Connect the Next Billion in Rural Areas Using Solar Power by VNL (download1) (download2) (download3)
6. Evolving Regulation to Help Connect the Next Billion by Heru Sutadi (download)
7. Using Telecoms and IT to Boost Educational Development by Kemendiknas (download)
8. Bringing Internet to The Next Billion : The Role of Mobile 2.0 by Rohan Samarajiva (download)
9. Energising The Next Billion by Erik Meijer (download)
10. From Africa to The South Pacific : Satelite to Connect the Other three Billion by O3b (download)
11. Solution to Manage and Monetize Your Bottom of the Pyramid Subscribers by Ryan Jones (download)
12. Last Mile Solution Affordable Internet by Indar Atmanto (download1) (download2) (download3)
13. Delivering Internet Services to The Unconnected in Malasyia by PS Tang (download1), (download2), (download3)
14. Small is Beautiful : Sustainable Energy - Efficient Networks For Rural Markets by Rohit Prasad (download)
15. What do Low Income Consumers From Their Phones by Revie Sylviana (download1), (download2)
16. Sudden Impact : The Power and Potential of Social Media in Indonesia : Case Study : NOKIA Who's the Most Social by Ari Fadly (download)
17. Global Case Studies of How Operators are Engaging With Bottom of the Pyramid Consumer Segment by Charles Moon (download)
18. Mobile Money Transfer as a Key Tool for Promoting Development (download)
19. A Booming Telecom Business to Reinforce the Economic Infrastrukture of Emerging and Developing Countries by M.Jakirul Islam (download1), (download2)
20. Incentiving the Creation of Local Content That Promotes Economic and Social Development by Ricard Menko (download)
21. Enabling Affortable Broadband for Inclusive Growth by Santanu Senguputra (download)

Presentation files from "3rd Annual Indonesia Telecoms International Summit", 27th October 2010
1. Opening Address by Setyanto P Santosa (download)
2. The Changing Nature of Prepaid : It's A New (Prepaid) World Out There by Arik, amdocs (download)
3. Case Study of Indonesia : Driving Growth in Indonesia Telecom Market by Hasnul Suhaimi, XL-Axiata (download)
4. ICT Practice by Jayes Easwaramony (download)
5. Mobile Data & ICT Prospect for Indonesia by Teguh Prasetya, Indosat (download)

Presentation files from "Broadband Wireless Access Indonesia, Peluang dan Tantangan", 02 September 2010
1. Sambutan Ketua Umum Mastel, Dr Setyanto P. Santosa (download)
2. Implementasi Wimax Sebagai Bagian Dari Program Akselerasi Penetrasi Broadband Telkom. PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk oleh Agus Subandrio (download)
3. BWA dan Dampaknya PT. First Media oleh Eko Budirahardjo (download)
4. Broadband Wireless Access Indonesia, Peluang dan Tantangan. PT. Alcatel-Lucent oleh Willy Sabry (download)
5. Broadband Wireless Access Indonesia, Peluang dan Tantangan. PT. Qualcomm oleh Harry K. Nugraha (download)
6. Broadband Wireless Access Indonesia, Peluang dan Tantangan. PT. LEN Industri (persero) oleh Wahyuddin Bagenda (download)
7. Pengembangan Industri Telekomunikasi Indonesia. PT. Industri Telekomunikasi Indonesia oleh Johny Swandi Syam (download)
8. XIRKA - Industri Hulu Broadband Nirkabel di Indonesia. PT. Xirka oleh Sylvia W. Sumarlin (download)
9. Indonesia Broadband Wireless Access Discussion. PT. Intel oleh Werner Sutanto (download)

Presentation files from "The Indonesian International Roundtable Discussion on the Convergence and Roadmap of ICT (A Regulatory & Technology Approach), 19 July 2010
1. Regulasi di Era Konvergensi. M. Budi Setiawan, Director General Posts & Telecommunications / Chairman of BRTI (download)
2. International Roundtable Discussion On Convergence And Roadmap of ICT A Regulatory & Technology Approach. Dr Veena Rawat, President Communications Research Centre Canada (CRC) (download)
3. Malaysia's Convergence Journey. William Lee Kwong, Malaysian Communications & Multimedia Commission (MCMC) (download)
4. Regulatory & Policy Approach On Convergence and Roadmap of ICT. Ir Rinaldi Firmansyah, President Director Telkom, Tbk (download)
5. Indonesia TV Industry Where Are We Going..? Hardijanto Saroso, Corporate Secretary & Head of Corporate Affair Division of SCTV (download)
6. Technology Evolution from Regulator's Perpective. Dr Titon Dutono, Director of Telecommunications of DG Postel (download)
7. Technology Approach On Convergence & Roadmap of ICT. Ongki Kurniawan, VP Of Corporate Strategy & Business Development of PT. XL Axiata (download)
8. International Roundtable Discussion On The Convergence and Roadmap of ICT A Technology approach. Venna Rawat, President of Communications Research Centre Canada (CRC) (download)
9. National Broadband Indonesia. Dirk Wolter, Chief Technology Officer for North and South East Asia Regional Unit of Alcatel Lucent (download)
10. Rural Connectivity ...in next billion era. Pandu Sinatriyo, Senior VP/Deputy of Technology of Nokia Siemens Network (download1) (download2)
11. Convergence And ICT Roadmap Technology Approach. Heru Sutadi, Commissioner of BRTI (download)

Published in Insight & Analysis