Management
Trend M&A 2012 di Indonesia
5 Target M&A
Untuk menganalisis trend deals atas M&A bisa dilihat dari investment appetite dari buyer side dan kebutuhan fund raising (equity) oleh seller side. Investment appetite dari buyer side (investor), baik investment institution yang terutama terdiri dari Private Equity (PE) dan Venture Capital (VC) maupun korporasi dalam industri sejenis, bisa dianalisis berdasarkan potensi pasar yang ada di Indonesia. Potensi pasar ini bisa diperoleh berdasarkan pola pembelanjaan rutin yang dilakukan oleh masyarakat.
Emerging consumer survey yang dilakukan oleh Credit Suisse pada akhir Januari 2012 setidaknya bisa memberikan gambaran bagaimana potensi pasar yang ada di Indonesia. Berdasarkan survei tersebut, terdapat sepuluh pembelanjaan rutin bulanan yang dilakukan oleh masyarakat. Kesepuluh pembelanjaan tersebut ialah (i) makanan (37%), (ii) rumah (11%), (iii) kendaraan (8%), (iv) pendidikan (8%), (v) tabungan (8%), (vi) transportasi & komunikasi (7%), (vii) kesehatan (6%), (viii) lainnya (5%), (ix) hiburan (4%), dan (x) mobile phone (3%).
Mempertimbangkan hasil survei tersebut, sebenarnya dari kesepuluh jenis pembelanjaan tersebut yang sekaligus merefleksikan sektor industri semuanya akan menjadi target dari deals atas M&A. Namun, jika mempertimbangkan faktor utama lain dalam melakukan M&A, yakni karakteristik pemain industri di Indonesia, maka berdasarkan analisis kami dari sisi buyer side terdapat lima target utama deals M&A. Pertama, sektor energi. Perusahaan - perusahaan di sektor energi akan menjadi target utama M&A, karena kebutuhan energi domestik, baik untuk rumah tangga, bisnis, dan industri masih tinggi dan bahkan sebagian diantaranya belum terpenuhi. Selain itu, permintaan energi untuk pasar global juga masih sangat tinggi. Pertimbangan penting lainnya ialah rasio jumlah perusahaan publik dengan total perusahaan masih relatif rendah (kurang dari 20 persen). Target investor untuk sektor energi ini ialah selain menargetkan pendapatan dari aktivitas operasional juga menargetkan pendapatan dari kenaikan nilai perusahaan saat dilakukannya exit strategy,terutama melalui IPO.
Kedua, financial services. Menelisik pola alokasi kelebihan dana masyarakat di Indonesia yang sekitar 40 persen masih dialokasikan sebagai tabungan di perbankan, maka pasar untuk financial services non banking di Indonesia masih sangat besar. Perusahaan asset management, perusahaan sekuritas, asuransi, dan pembiayaan kelas kecil - menengah akan menjadi target utama akuisisi oleh para investor. Perusahaan - perusahaan di industri ini menjadi target deals M&A, karena market share yang ada masih dikuasai oleh maksimal tiga perusahaan. Misalnya perusahaan asset management (berdasarkan AUM, baik public maupun private fund) masih dikuasai oleh Schroders, Manulife, dan BNP Paribas serta untuk perusahaan asuransi dikuasai oleh Prudential, AIA, dan Allianz. Tipe buyer side yang akan masuk ke industri ini adalah korporasi dari industri sejenis yang menargetkan pendapatan dari aktivitas operasional perusahaan.
Ketiga, makanan non consumer good. Walaupun dari pembelanjaan rutin bulanan, segmen makanan (termasuk di dalamnya minuman) menjadi pembelanjaan utama, namun deals M&A di sektor ini tidak akan seatraktif dibandingkan dengan deals di sektor energi dan financial services. Hal ini terutama dikarenakan pemain atas industri makanan, terutama produksi telah dikuasasi oleh perusahaan multinasional dan nasional besar, seperti Unilever, Nestle, dan Indofood. Namun, perusahaan-perusahaan untuk supporting industri makanan dan gerai makanan akan menjadi target deals M&A. Berdasarkan data yang ada, pola pembelian makanan pada gerai makanan internasional sebesar 20 persen, sebesar 40 persen pada gerai makanan brand nasional, dan sisanya terhadap gerai non brand. Pangsa pasar 40 persen itulah yang menjadi target akuisisi oleh buyer side yang terutama merupakan investment institution.
Keempat, telekomunikasi & ICT. Sektor telekomunikasi yang akan menjadi target M&A ialah terutama jasa penyedia internet dan supporting untuk bisnis telekomunikasi. Dikarenakan pembelanjaan untuk komunikasi telah menjadi belanja rutin dengan trend yang meningkat (terutama untuk harga yang murah), maka supporting atas bisnis telekomunikasi yang terdiri dari menara jaringan, produksi chip, dan lain sebagainya akan menjadi target merger dan akusisi oleh para investor. Sementara itu, perusahaan - perusahaan di bidang ICT, baik web based, content provider, maupun lainnya akan menjadi target akuisisi. Tren ini terutama akibat pertumbuhan pesat pengguna internet di Indonesia, di mana yang pada tahun 2006 masih sebesar 20 juta dan sekarang sekitar 50 juta serta sampai tahun 2015 diprediksi sebesar 90 juta pengguna (BCG, 2011).
Kelima, kesehatan. Sektor kesehatan yang terutama perusahaan dari pendukung pengobatan, seperti laboratorium kesehatan, produsen alat - alat kesehatan, dan produsen obat akan menjadi target untuk merger dan akuisisi. Target M&A di sektor kesehatan ini dikarenakan adanya kenaikan kelas menengah masyarakat, sehingga dari sebelumnya yang hanya keehatan yang paling mendasar yang selalu mendapatkan prioritas, namun sekarang ada trend mengantisipasi penyakit.
Di luar lima target utama dari buyer side untuk deals M&A sebelumnya, maka trend untuk sektor real estate (rumah), kendaraan, dan transportasi ialah ekspansi dengan memaksimalkan fund raising dari skema debt (banking loan, MTN, atau obligasi).
Indonesia Economic Outlook 2012
Tahun 2012 bisa jadi merupakan salah satu tahun terbaik dalam sejarah perekonomian Indonesia. Kinerja makro ekonomi Indonesia selama tahun 2011 yang sangat atraktif di tengah krisis utang di beberapa negara di Eropa dan sebagian tekanan fiskal di AS akan menjadi modal penting penggerak ekonomi di Indonesia selama tahun 2012. Bahkan adanya masalah fiskal dan moneter di beberapa negara emerging market, seperti masalah fiskal (tingginya defisit anggaran) dan tingginya inflasi di India serta masalah moneter di China, diprediksi akan menjadikan perekonomian Indonesia lebih atraktif dibandingkan kinerja ekonomi tahun 2011.
Di luar faktor eksternal tersebut, setidaknya terdapat tiga faktor yang menjadikan fundamental ekonomi Indonesia begitu kokoh. Pertama, besarnya jumlah penduduk Indonesia. Indonesia dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia menjadikan pasar domestik Indonesia sangat potensial untuk menggerakkan pertumbuhan ekonomi, terutama dari sisi konsumsi. Bahkan seiring dengan kenaikan kelas menengah di Indonesia yang pada lima tahun lalu masih berkisar 80 juta penduduk dan sekarang telah beranjak ke angka 120-an juta orang menjadikan pasar domestik di Indonesia lebih bernilai tambah. Dikarenakan juga faktor tingginya jumlah penduduk inilah yang menyebabkan tekanan krisis yang terjadi di luar Indonesia begitu rendah terhadap perekonomian Indonesia.
Kedua, tingginya cadangan sumber daya alam di Indonesia. Memang terdapat berbagai riset yang menyebutkan bahwa negara dengan sumber daya alam yang berlimbah justru mendapatkan kutukan atas berlimpahnya sumber daya alam tersebut, yang terefleksikan oleh misalnya tingginya angka kemiskinan, ketimpangan sosial, dan perang saudara. Riset tersebut memang benar, namun dalam konteks Indonesia sekarang ini, tingginya cadangan sumber daya alam tersebut menjadikan salah satu penggerak utama atas perekonomian di Indonesia. Walaupun secara ideal, pengelolaan sumber daya alam di Indonesia masih harus ditingkatkan, terutama untuk memberikan nilai tambah yang lebih besar atas sumber daya alam yang dihasilkan dan diproduksi dari Indonesia.
Ketiga, praktik demokrasi dalam sistem politik di Indonesia. Praktik demokrasi di Indonesia dengan segala kelemahan yang masih ada menjadikan modal sangat penting dalam menggerakkan perekonomian domestik. Walaupun secara ideal, praktik demokrasi seharusnya memberikan manfaat yang jauh lebih besar, yaitu sebagai instrumen untuk menyejahterakan masyarakat (Andrianto dan Irianto, 2008). Namun dengan praktik demokrasi yang sedang berjalan di Indonesia saat ini, setidaknya perekonomian Indonesia telah mendapatkan pijakan untuk melaju lebih kencang.
Pertumbuhan - Sisi Permintaan
Berpijak pada tiga faktor fundamental tersebut, diprognosiskan dari sisi permintaan, ekonomi Indonesia akan tumbuh atau bahkan memiliki pertumbuhan yang lebih baik dibandingkan dengan kinerja perekonomian Indonesia 2011. Pertama, dari variabel konsumsi, kami perkirakan akan tumbuh sama baiknya dengan pertumbuhan konsumsi selama 2011. Namun, dari sisi kontribusi sektor konsumsi kami progoniskan akan lebih kecil dibandingkan dengan kontribusi selama tahun 2011, yakni akan berada di kisaran 63 persen. Selain itu, dengan adanya kenaikan kelas masyarakat dengan pendapatan menengah menyebabkan konsumsi mayoritas di Indonesia tidak lagi terbatas hanya kepada basic need, tetapi mulai meningkat ke konsumsi dengan jenis barang atau jasa dengan nilai tambah yang lebih besar. Perubahan pola konsumsi ini akan mengakibatkan perubahan pula pada variabel investasi.
Kedua, dari pembentukan modal domestik bruto atau variabel investasi. Pada tahun 2012 ini, kami memprognosiskan bahwa investasi, terutama investasi langsung (FDI) di Indonesia akan jauh lebih tinggi dibandingkan dengan tahun sebelumnya atau bahkan bisa menjadi paling tinggi dibandingkan dengan kinerja investasi tertinggi di Indonesia selama dekade 1980 –an. Faktor fundamental makro ekonomi ekonomi yang kuat, stabilitas moneter dan terjaganya kinerja perbankan, serta terutama kenaikan rating utang pemerintah oleh lembaga rating internasional, Fitch dari BB+ ke BBB- dan Moody’s dari ba1 ke Baa3 menjadikan kinerja investasi di Indonesia diprediksi akan mencapai rekor baru. Dengan kenaikan rating utang oleh dua lembaga rating internasional tersebut, maka tinggal satu lembaga rating besar internasional lain, yakni S&P yang masih mempertahankan rating utang Indonesia pada posisi BB+. Namun, kami memprediksi bahwa S&P dalam tahun 2012 akan turut pula meningkatkan peringkat utang pemerintah Indonesia dari BB+ ke BBB-.
Walaupun hal tersebut hanya sebatas kenaikan peringkat utang, namun perolehan peringkat BBB- dan Baa3 oleh Indonesia yang merupakan batas terbawah untuk investment grade menjadikan investor dan berbagai pengusaha di seluruh dunia akan mempertimbangkan Indonesia sebagai salah satu negara terpenting di dunia saat ini ketika perekonomian eropa dan AS lesu serta beberapa negara emerging market lainnya mengalami tekanan ekonomi domestik. Namun demikian, yang perlu digarisbawahi adalah prognosis dan potensi ini dapat terealisasi dengan catatan bahwa pemerintah tidak memberikan restriksi – restriksi baru atas upaya pelaksanaan investasi tersebut. Apabila pemerintah dapat mengelola potensi investasi dan menghilangkan berbagai restriksi, kami memprediksikan bahwa kontribusi variabel investasi terhadap pertumbuhan ekonomi akan berkisar antara 25 persen – 30 persen. Jika angka ini terealisasi, maka kontribusi investasi ini merupakan salah satu kinerja terbaik dalam sejarah perekonomian Indonesia. Dengan ini pula, maka sebenarnya kualitas pertumbuhan ekonomi di Indonesia akan menjadi lebih baik karena dengan pola investasi ini akan menyebabkan permintaan jumlah tenaga kerja semakin tinggi dan terjadi kenaikan rata – rata pendapatan.
Ketiga, net ekspor. Dengan adanya tekanan ekonomi pada beberapa negara utama di eropa, AS juga belum pulih benar, dan Jepang yang masih terkena imbas dari bencana Tsunami 2011 yang selama ini menjadi tujuan utama ekspor Indonesia dipastikan kinerja ekspor Indonesia akan mengalami penurunan. Namun demikian, beberapa negara di Asia, Afrika, dan Amerika Latin yang perekonomiannya stabil dengan kecenderungan membaik menyebabkan secara agregat kinerja ekspor oleh Indonesia tidak akan terlalu berpengaruh. Prognosis ini dapat terealisasi dengan catatan bahwa pemerintah harus memaksimalkan potensi hubungan bilateral dengan negara – negara di Asia, Afrika, dan Amerika Latin tersebut untuk membuka pasar baru yang saling menguntungkan. Sedangkan dari sisi impor, kami memprediksikan bahwa akan terjadi kenaikan kuantitas impor ke Indonesia, walaupun dengan nilai yang rendah. Dengan demikian secara agregat, kami memprognosiskan bahwa variabel net ekspor Indonesia selama tahun 2012 akan tumbuh dengan nilai yang tidak jauh berbeda dibandingkan kinerja selama tahun 2011. Sedangkan dari sisi kontribusi, kami memprognosiskan bahwa kontribusi net ekspor terhadap pertumbuhan ekonomi sekitar sepuluh persen.
Pertumbuhan – Sisi Penawaran
Dari sisi penawaran, kami memperkirakan bahwa selama tahun 2012 tidak akan terjadi perubahan pola yang mendasar atas pertumbuhan dan juga kontribusi sektoral terhadap perekonomian nasional. Dari sembilan sektoral yang ada, yakni (i) pertanian; (ii) pertambangan & penggalian; (iii) industri pengolahan; (iv) listrik, gas, dan air bersih; (v) bangunan; (vi) perdagangan, hotel, & restoran; (vii) pengangkutan dan komunikasi; (viii) keuangan, persewaan, dan jasa; dan (ix) jasa – jasa lain, sektor perdagangan kami prediksikan akan tetap menjadi sektor dengan pertumbuhan sektoral yang tertinggi. Berikutnya, disusul oleh industri dan pertanian. Sedangkan sektor lainnya, kami memprediksikan pertumbuhannya lebih rendah dibandingkan sektor perdagangan, industri, dan pertanian.
Dari sisi kontribusi sektoral, kami memprediksi bahwa sama halnya dengan pola pertumbuhan sektoral, di mana kami memprediksi bahwa pola kontribusi sektoral terhadap pertumbuhan ekonomi selama tahun 2012 tidak akan berbeda dengan tahun – tahun sebelumnya. Pola yang sama ini, baik untuk kontribusi maupun pertumbuhan sektoral ini bisa terjadi dan tidak akan mengalami perubahan drastis karena dari faktor fundamental sektoral, perekonomian di Indonesia tidak mengalami perubahan yang mendasar. Aktvitas riil ekonomi Indonesia yang masih terpusat di pulau Jawa dan belum ada kebijakan dari Pemerintah yang memacu tumbuhnya aktivitas ekonomi riil di luar Pulau Jawa menyebabkan pola ekonomi tersebut tidak mengalami perbedaan jauh, mulai zaman orde baru sampai sekarang ini.
Berpijak pada berbagai prognosis sebelumnya, baik dari sisi permintaan maupun penawaran, kami memperkirakan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia selama 2012 akan berada di angka 6,5 persen. Namun demikian, jika pemerintah dapat memaksimalkan berbagai potensi yang ada dan mengurangi berbagai hambatan yang ada, maka pertumbuhan ekonomi bisa menjadi lebih tinggi dari 6,5 persen.
Moneter & Nilai Tukar
Sementara itu, dari beberapa indikator makro ekonomi selain pertumbuhan ekonomi, yakni (i) BI rate; (ii) inflasi; dan (iii) nilai tukar kami memprognosiskan asumsi – asumsi makro yang telah ditetapkan oleh pemerintah dalam APBN 2012 tidak sepenuhnya tepat. BI rate yang dalam asumsi APBN 2012 ditetapkan sebesar 6,0 persen, kami memprediksikan bahwa selama 2012 rata –rata BI akan turun 50 basis poin, yakni berada di angka 5,5 persen. Hal ini berpijak pada pertimbangan bahwa tingkat inflasi (y-o-y) selama 2012 kami prediksi maksimal sebesar 5 persen. Inflasi yang lebih tinggi 1,21 persen dibandingkan dengan inflasi (y-o-y) selama 2011 tersebut, terutama disebabkan fluktuasi harga minyak mentah dunia. Namun demikian, jika pemerintah akan mengimplementasikan kebijakan penggantian bahan bakar untuk kendaraan dari bahan bakar minyak ke gas atau juga pemerintah mengambil opsi menaikkan harga bahan bakar minyak akibat naiknya harga minyak mentah dunia menyebabkan prediksi terhadap inflasi dan BI rate akan naik dengan angka yang belum bisa dipastikan.
Sedangkan untuk nilai tukar rupiah terhadap mata uang Dollar AS, kami memprediksi asumsi yang ada dalam APBN 2012, yakni sebesar 8.800 per Dollar AS terlalu optimis. Berdasarkan perkiraan kami, nilai tukar rupiah terhadap Dollar AS akan berkisar di angka 9.000 – 9.200 rupiah per Dollar AS. Perkiraan ini kami dasarkan atas pertimbangan bahwa mata uang rupiah masih akan menjadi salah satu instrumen investasi jangka pendek selama 2012.
Lebih dari itu, Indonesia secara struktural masih memiliki beberapa beberapa kendala untuk memaksimalkan berbagai potensi yang ada, seperti infrastruktur yang masih relatif buruk, adanya biaya transaksi untuk aktivitas bisnis atau investasi baru, masalah buruh, dan kurangnya ketersediaan sumber daya manusia yang memadai menyebabkan berbagai potensi yang ada belum dapat dimanfaatkan secara maksimal. Berbagai kendala ini memang tidak dapat diselesaikan dengan cepat dan selesai selama satu tahun ke depan. Namun, jika berbagai kendala ini dapat segera diminimalisir atau bahkan dihilangkan, setidaknya dalam lima tahun mendatang perekonomian Indonesia akan tumbuh sangat besar dan akan memainkan peran sangat penting bagi perekonomian global.