Home Socrates Rudy, Ph.D Items filtered by date: November 2010
Friday, 26 November 2010 15:16

VIsi Energi Terbarukan 2025

Pemerintah baru saja mengintrodusir Visi Energi Terbarukan 2025, di mana pada lima belas tahun mendatang penggunaan energi terbarukan ditargetkan paling sedikit 25 persen dari total pemakaian energi. Visi ini jauh berbeda dengan kebijakan sebelumnya, di mana berdasarkan Kebijakan Energi Nasional yang diintrodusir pada tahun 2006 penggunaan energi terbarukan pada tahun 2025 ditargetkan minimal lima persen dari total konsumsi energi.

Pertimbangan Makro

Walaupun masih sebatas komitmen dan belum menjadi sebuah regulasi, visi baru tersebut menyiratkan bahwa ada perubahan besar atas paradigma yang dimiliki oleh pemerintah, baik terkait perubahan iklim maupun energy security dalam kerangka makro ekonomi.

Dalam visi baru tersebut, penggunaan energi berbasis minyak bumi ditargetkan sebesar 20 persen, turun drastis sebesar 23,7 persen dari target yang ada dalam kebijakan energi sebelumnya. Hal sama juga terjadi untuk gas bumi dan batu bara.

Dalam konteks perubahan iklim, visi tersebut memberikan gambaran pemerintah menyadari benar bahwa energi terbarukan merupakan instrumen penting yang bisa mengurangi dampak perubahan iklim. Namun hal ini akan kurang berarti jika hanya menggunakan pertimbangan tersebut, karena  kebijakan ekonomi akan bermanfaat jika trade off yang ada tidak banyak. Pada titik inilah, visi tersebut menjadi salah satu antisipasi kian menipisnya cadangan energi berbasis fosil.

Benarkah Berkomitmen?

Dengan perubahan paradigma terhadap energi terbarukan selama empat tahun terakhir tersebut seharusnya Pemerintah juga telah mengeluarkan komitmen derivasi yang mengikat. Komitmen mengikat ini penting karena lompatan besar yang dilakukan oleh pemerintah tersebut harus disertai aplikasi turunannya yang efektif dan terukur.

Komitmen mengikat ini bisa diukur dari dua sisi, yakni (i) sisi penawaran, dan (ii) sisi permintaan. Sisi penawaran dapat diukur melalui berbagai regulasi yang dikeluarkan oleh pemerintah kepada (i) perusahaan penyedia listrik, baik BUMN maupun swasta, dan  (ii) perusahaan penyedia dan distribusi bahan bakar minyak.

Berdasarkan pengamatan penulis, dari dua target utama tersebut selama empat tahun terakhir ini pemerintah hanya mengalokasikan energi terbarukan pada proyek listrik 10 ribu MW tahap II. Total alokasi ini sekitar 15 persen dari keseluruhan bahan bakar pembangkit listrik, sehingga berdasarkan perencanaan ini secara agregat alokasi energi terbarukan terhadap total pembangkit listrik kurang dari satu persen.

Sementara itu dari sisi permintaan, pemerintah saat ini belum mengeluarkan kebijakan yang mengikat kepada masyarakat dan pelaku industri tertentu untuk menggunakan energi terbarukan, baik untuk konsumsi listrik maupun bakar bakar lainnya.

Dengan realitas itu, bisa dipastikan bahwa pemerintah tidak memiliki komitmen mengikat yang terukur, efektif, dan aplikatif atas pengembangan energi terbarukan. Hal ini akhirnya berimplikasi pada investasi energi terbarukan di Indonesia menjadi tidak jelas dalam perolehan keuntungan dan proteksi inventasi.

Kalkulasi Investasi

Mempertimbangkan hal tersebut, berarti bahwa investasi energi terbarukan sampai saat ini memang belum banyak terjadi. Ini berarti untuk mecapai visi energi terbarukan 2025 hampir semuanya harus dimulai dari sekarang.

Hal ini ketika dibandingkan dengan negara lain, China misalnya, terlihat banyak sekali perbedaannya. China yang memiliki kebutuhan energi terbesar di dunia telah melakukan banyak persiapan. Sampai saat ini saja berbagai BUMN Listriknya telah melakukan investasi pembangkit listrik berbasis energi terbarukan, baik dengan skema pembangunan dari awal maupun akuisisi perusahaan lainnya. Huaneng Group, salah satu BUMN Listrik China dalam dua tahun terakhir saja telah menginvestasikan US$ 5 miliar untuk berbagai akusisi di energi terbarukan dan ini akan terus berlanjut.

Pertanyaannya, mampukah pemerintah Indonesia menerapkan terobosan yang dilakukan oleh negara-negara lain?

Berdasarkan prognosis penulis, diperlukan dana sekitar US$ 100 miliar supaya pada tahun 2025 porsi konsumsi energi terbarukan paling sedikit 25 persen dari semua konsumsi energi.

Kebutuhan dana yang besar tersebut tentu bukan menjadi kewajiban pemerintah untuk memenuhinya. Yang perlu dilakukan oleh pemerintah adalah mengeluarkan kebijakan yang terukur, efektif, dan aplikatif. Setidaknya ada lima fokus utama yang harus diintrodusir segera, yakni (i) regulasi investasi di energi terbarukan, baik yang menggunakan instrumen keuangan biasa maupun melalui secondary capital market, (ii) insentif fiskal  jangka panjang pemprioritasan pengembangan energi terbarukan, (iii) regulasi untuk membuat pasar energi terbarukan di Indonesia, (iv) mengharuskan PLN dan Pertamina dengan pola business to business untuk memulai memprioritaskan penyediaan listrik dan bahan bakar berbasiskan energi terbarukan, dan (v) birokrasi pemerintah tidak menjadi penghalang utama atas investasi di energi terbarukan tersebut.

Tanpa memasukkan dan menjalankan rekomendasi tersebut, ancaman krisis energi di masa mendatang kian nyata.

*) Artikel ini juga telah dimuat di Harian Kontan pada 26 November 2010

Published in Insight & Analysis
J. Crew, perusahaan pakaian (clothier) yang terkenal karena produknya dipakai oleh first lady Amerika Serikat, Michelle Obama, menurut New York Times telah dekat dengan sebuah kesepakatan penjualan dengan nilai USD 2,8 miliar atau setara Rp 25,2 triliun melibatkan perusahaan private equity Texas Pacific Group Capital (TPG) dan Leonard Green & Partners. Pembelian perusahaan akan dilakukan di harga USD 43,50 per saham, harga premium 16 persen terhadap harga penutupan hari Senin 22 November 2010 sebesar USD 37,65.


Akuisisi ini merupakan reuni TPG di J. Crew, karena sebelumnya TPG adalah pemilik J. Crew. Pada tahun 1997, TPG mengakuisisi 88 persen saham dengan nilai USD 500 juta dari keluarga Cinader, pendiri J. Crew. Pada saat itu, perusahaan, sedang mengalami kesulitan yang parah dari penurunan penjualan di seluruh jaringan toko dan bisnis lainnya.

Selama dikelola oleh TPG, perusahaan mengalami pertumbuhan bisnis. Jaringan toko telah diperluas menjadi 244 toko ritel, 79 outlet dan bisnis online. Terakhir perusahaan membuka butik pengantin dan toko pakaian khusus pria, di Upper East Side Manhattan. Perusahaan telah mendapatkan cap dalam beberapa tahun terakhir sebagai favorit trendsetter ketika Michelle Obama mulai menggunakan merek J. Crew sebagai wardrober-in-chief. Tahun 2006, J. Crew melakukan penawaran umum perdana saham – initial public offering (IPO) dan berhasil menghimpun dana USD 376 juta.


Michelle Obama wears J. Crew
Photo credit: Vogue

Penghasilan tahunan bersih perusahaan naik dua kali lipat antara Februari 2007 dan Januari 2010, dengan nilai USD 123.4 juta. Perusahaan sekarang hampir tidak memiliki utang jangka panjang. Itu membuat sasaran yang menarik bagi perusahaan private equity, yang mengandalkan uang pinjaman untuk mengakuisisi perusahaan tersebut. Dari rencana akuisisi J. Crew senilai USD 2,8 miliar tersebut, TPG akan memiliki 75 persen saham, dan 25 persen akan menjadi milik Leonard Green & Partners.



Published in Insight & Analysis
Saturday, 20 November 2010 15:46

LVMH Full Takeover Hermes Setelah Equity Swap

LVMH Moet Hennessy Louis Vuitton, grup perusahaan barang mewah terbesar di dunia telah memilih opsi untuk mengambil lebih dari 17 persen saham di Hermes (18,071,246 lembar saham) daripada opsi pembayaran tunai dari sebuah kontrak equity swap. Dalam kontrak tersebut, harga saham Hermes ditetapkan di harga 80 euro, nilai kontrak sekitar 1,45 miliar euro atau USD 2 miliar. LVMH membuat kontrak derivatif pada tahun 2008 yang awalnya ditetapkan untuk diakhiri dengan pembayaran tunai, tetapi perusahaan mengubah keputusan awal mereka untuk mendapatkan saham Hermes di akhir kontrak.


Finance Indonesia people, LVMH memiliki bisnis fashion dengan sekitar 50 merek barang mewah, salah satunya adalah Louis Vuitton yang merupakan
merek barang mewah nomor satu dunia selama lima tahun terakhir secara berturut-turut. Bisnis fashion LVMH terdiri dari fashion & leather goods, wine & spirits, perfumes & cosmetics, watches & jewelry, selective retailing. Dari peringkat yang dibuat oleh Milward Brown tersebut, merek Hermes berada di urutan kedua setelah Louis Vuitton.



Alasan perusahaan memilih opsi pembayaran tunai pada awal kontrak menurut Pierre Godé, vice president LVMH, seperti yang dilansir New York Times adalah equity swap dengan opsi pembayaran tunai merupakan tren kontrak derivatif sejak akhir tahun 2007 ketika krisis keuangan diumumkan dan pasar saham mulai menderita. Hampir semua investment bank menawarkan kontrak derivatif dengan opsi tersebut, sehingga perusahaan membuat kontrak (seakan) tanpa pilihan. Para investment bank yang menawarkan konrak equity swap Hermes kemudian melakukan pembelian saham Hermes untuk hedging, dan mereka kemudian menjual saham tersebut di pasar. Ada rumor bahwa sebuah kelompok asing yang kuat dalam sektor fashion dan beberapa perusahaan investasi Cina tertarik membeli saham Hermes. Berdasarkan perkembangan yang terjadi di pasar keuangan tersebut, LVMH melakukan perubahan opsi mengakhiri kontrak dari pembayaran tunai menjadi pengalihan saham.

Jean-Pierre Jouyet, ketua otoritas pasar keuangan Prancis keuangan, menanggapi keputusan LVMH mengubah opsi adalah sebagai suatu cara LVMH memiliki Hermes tanpa ingin diketahui pasar. Dalam hukum Perancis, perusahaan diwajibkan untuk membuat pernyataan resmi tentang equity swap jika pada akhir kontrak diselesaikan dalam pengalihan saham. Tanggapan Jouyet kemudian direspon oleh Godé bahwa perusahaan siap mengumumkan hal tersebut kepada publik secara resmi segera mungkin.



LVMH Full Takeover Hermes?

Pertumbuhan penjualan Hermes di kuartal tiga tahun ini sebesar 30 persen tentu sangat menarik bagi LVMH. Hermes saat ini memiliki nilai pasar sekitar USD 26 miliar sedangkan LVMH memiliki nilai pasar sekitar USD 77 miliar. Finalisasi kepemilikan 17 persen saham Hermes oleh LVMH ini menimbulkan spekulasi bahwa LVMH akan melakukan full takeover dengan bantuan dana dari Diageo. Perusahaan minuman terbesar dunia tersebut memiliki peran penting terhadap rencana akuisisi Hermes oleh LVMH. Menurut Telegraph, LVMH akan menjual wine and spirits division kepada Diageo dengan nilai transaksi sekitar USD 17 miliar.

Finance Indonesia people, perubahan opsi dalam mengakhiri kontrak equity swap menunjukan minat LVMH yang besar terhadap Hermes. Rencana full takeover di masa depan agar Birkin, tas yang selalu dibawa oleh Victoria Beckham dan Katie Holmes, dapat bergabung dengan Fendi, Donna Karan, Givenchy. Tag Heuer, dan Hublot, dapat saja terjadi dengan atau tanpa Hennessy, Dom Perignon, Moet & Chandon bersatu dengan Johnnie Walker, Smirnoff, Guinness. Dunia fashion global yang glamour sangat erat dengan dunia finance atau capital market baik dari sisi bisnis maupun kehidupan sosial. Cerita corporate action mereka selalu menarik untuk diikuti perkembangannya.



Published in Insight & Analysis
Wednesday, 17 November 2010 15:24

Merger News Corp-Yahoo Jika AOL-Yahoo Gagal

Rencana merger Yahoo dan AOL yang masih dalam tahap pembicaraan awal diliputi ketidakpastian setelah rencana merger Yahoo dan News Corp kini ramai dibicarakan. Seperti diketahui, rencana merger Yahoo dan AOL memiliki kendala berkaitan dengan perbedaan kapitalisasi dan kepemilikan Yahoo di Asia (Yahoo Jepang dan Alibaba China).



Photo credit: Guardian

Sejak kegagalan Microsoft mengakuisisi Yahoo tahun 2008, Yahoo telah menjadi target akuisisi oleh berbagai pihak. Dengan 2,9 miliar page view per hari dan sekitar 380 juta pengunjung per hari, Yahoo diestimasi memiliki nilai sekitar USD 20,6 milar. Rupert Murdoch, CEO News Corp dikabarkan dihubungi berbagai perusahaan private equity ternama, antara lain Silver Lake Partners untuk mengakuisisi Yahoo. Kabar tersebut berhembus mengingat News Corp memiliki antipati dengan Google, dan Yahoo merupakan kompetitor utama Google untuk search engine.

Kinerja News Corp yang mengkilap dalam hal akuisisi dan pasca-akuisisi, dapat dilihat di situs MySpace yang diakuisisi News Corp tahun 2005. Paca-akuisisi, MySpace mengalami peningkatan pengunjung dan tampilan iklan. Diketahui, News Corp adalah jaringan perusahaan media ternama saat ini dengan memiliki ribuan media terbagi dalam lima kelompok binis: Cable Network Programming, Filmed Entertainment, Television, Direct Broadcast Satelite Television dan Publishing. Selain mengakuisi MySpace, News Corp juga telah mengakuisisi Hulu, situs video online yang merupakan perusahaan joint venture dengan NBC Universal dan Disney. Bisnis News Corp di bidang bisnis digital selengkapnya dapat dilihat disini -
other assets News Corp.

Nama-nama perusahaan global seperti National Geographic, FOX, STAR, 20th Century Fox, Daily Telegraph, The Sunday Times, Wall Street Journal dll adalah bagian dari jaringan News Corp. Kemungkinan merger News Corp dan Yahoo sangat memungkinkan karena News Corp merupakan penyedia konten yang tidak perlu diragukan lagi. Kemiripan bisnis antara Yahoo dan AOL membuat News Corp memiliki pilihan untuk melakukan aksi merger akuisisi. Nilai AOL yang hanya sepersepuluh dari nilai Yahoo mungkin akan menjadi pertimbangan bagi Rupert Murdoch. Sehingga kemungkinan merger akuisisi yang akan terjadi adalah Yahoo-AOL, Yahoo-News Corp atau AOL-News Corp yang tidak dipublikasikan oleh media?



Published in Insight & Analysis
Thursday, 04 November 2010 15:46

Groupon Menjadi Target Akuisisi Yahoo

Yahoo situs yang focus di konten dan layanan iklan dikabarkan tengah mensiapkan dana sekitar USD 2 miliar untuk mengakuisisi situs yang menjual kupon diskon, Groupon. Dana yang disiapkan oleh Yahoo tersebut berasal dari estimasi 6-8 X dari pendapatan Groupon yang diperkirakan USD 200-400 juta. Apa hal yang menarik dari situs dengan konsep seperti yang dilakukan Groupon? Potensi bisnis apa yang terkandung didalamnya dan apa alasan Yahoo sehingga berminat membeli?



Photo credit: tvnooz.com


Groupon, adalah salah satu situs yang masuk di jajaran
The Digital 100 - The World’s Most Valuable Startups tahun 2010 versi Business Insider. Prosedur yang ada di situs Groupon secara singkat adalah:

  •  Situs menampilkan berbagai penawaran kupon diskon yang tersedia pada periode tertentu
  •  Pengguna (user) membeli kupon yang mereka minati
  • Pengguna menukarkan kupon yang mereka miliki ke tempat yang tertulis di kupon tersebut untuk menikmati produk yang mereka inginkan

Groupon mendapat pendapatan dari setiap penjualan kupon yang dilakukan dan dibayarkan oleh perusahaan penyedia kupon diskon tersebut. Ini merupakan potensi bisnis yang menarik, karena merupakan alternatif promosi atau iklan yang sudah umum dilakukan oleh perusahaan. Keberhasilan Groupon diikuti oleh munculnya berbagai situs dengan konsep bisnis sejenis, sebut situs DealKeren, Disdus, Fanesia, AdaDiskon, OgahRugi dan lain-lain. Apa hal utama yang membedakan Groupon dengan lainnya selain sebagai market leader dalam bisnis kupon diskon digital? Beberapa situs masih menggunakan sistem transfer rekening bank dalam penyelesaian transaksi pembelian kupon diskon, atau tidak menggunakan payment gateway di dalam aplikasi mereka. Mungkin transfer rekening bank masih bisa dianggap umum jika situs tersebut memiliki target pasar Indonesia yang amsih konservatif. Tetapi jika berorientasi global, maka keharusan pembayaran dengan dukungan payment gateway seperti yang dilakukan Groupon menjadi standar internasional.

Alasan Merger dengan Situs Groupon

Groupon diperkirakan telah menghasilkan pendapatan USD 400 juta tahun ini dari hasil penjualan diskon melalui penawaran melalui email para pengguna. Jika melihat grafik jumlah pengunjung unik ke akun e-mail di Amerika Serikat, seperti dibawah ini:


Photo credit: Business Insider


Yahoo bisa disebut sebagai pemimpin email dunia yang kurang memiliki pengembangan bisnis atas potensi yang dimiliki. Groupon membutuhkan database email pelanggan, berapa biaya yang akan dikeluarkan untuk mendapatkan ratusan juta database email? Akuisisi Groupon oleh Yahoo merupakan keputusan strategis yang saling menguntungkan, jika ditinjau dari mekanisme penawaran via email yang dilakukan Groupon dan fasilitas email Yahoo yang mumpuni. Groupon tidak perlu mengeluarkan biaya untuk mendapatkan database, dari akuisisi tersebut Groupon bahkan akan mendapatkan kurang lebih 100 juta database email milik Yahoo untuk menjadi target pelanggan Groupon.


Andrew Mason – CEO Groupon
Photo credit: Business Insider


Akuisisi Groupon diperkirakan tidak mulus, karena selain Yahoo terdapat nama-nama perusahaan raksasa digital lainnya yang memiliki minat sama, seperti eBay, Google dan Amazon. Setelah membahas alasan pembelian oleh Yahoo, berikut adalah alasan pembelian oleh masing-masing situs tersebut:

Ebay, bisnis inti situs ini pada dasarnya iklan untuk bisnis lokal dan Groupon merupakan ancaman nyata. Daripada menghabiskan ribuan dolar pada iklan Google untuk mengarahkan pelanggan potensial untuk lelang eBay, pembeli iklan lokal dapat diraih melalui Groupon, hanya membajak uang itu ke diskon untuk meraih pelanggan baru. Motivasi akuisisi Groupon lebih cenderung sebagai menghentikan kompetisi bisnis bagi eBay.

Google,
iklan pencarian (search-ad) membutuhkan bisnis lokal untuk mengoperasikan halaman Web. Jika Google jadi membeli Groupon, maka Google dapat meningkatkan penjualan iklan pencarian dari ribuan perusahaan yang ada di Groupon. Kredibilitas Google sebagai raja akuisisi dunia tidak perlu diragukan, baik dari segi dana, pengalaman akuisisi dan rencana strategi bisnis terhadap setiap akuisisi yang dilakukan.

Amazon, adalah raja personalisasi e-commerce. Groupon, yang sukses dengan bisnisnya masih melakukan kesepakatan transaksi non-personal kepada semua penggunanya. Dengan teknologi Amazon, maka Groupon akan dapat meningkatkan nilai karena kesepakatan tersebut dikirim ke demografis yang berbeda. Merger antara Amazon dan Groupon melalui akuisisi akan menciptakan nilai (value creation) masing-masing perusahaan.

Dengan kredibilitas para pesaing Yahoo dalam rencana akuisisi Groupon, maka Yahoo harus lebih siap jika serius dengan rencana tersebut. Dana bukan jaminan, karena salah satu pesaing yaitu Google adalah raja akuisisi dunia saat ini dengan total akuisisi USD 7,98 miliar. Rencana Yahoo ini tentu akan mempengaruhi
rencana AOL untuk membeli Yahoo. Memang agak sedikit membingungkan, dimana Yahoo sebagai target akuisisi AOL, dalam periode yang berdekatan Yahoo jutsru ingin mengakuisisi Groupon.

Keberhasilan Groupon memikat Yahoo dan perusahaan lainnya, seharusnya bisa dijadikan pelajaran bagi perusahaan startup Indonesia ala Groupon, seperti Disdus, Fanesia, DealKeren, OgahRugi, AdaDiskon dan lain-lain. Peluang startup Indonesia menjadi perusahaan kelas dunia terbuka lebar.
Jumlah penduduk Indonesia yang besar merupakan potensi pasar yang besar dan Indonesia kelak menjadi salah satu negara terdepan dalam bisnis konten digital dunia.



Published in Insight & Analysis