Saturday, 21 May 2011 20:17

Setelah IPO LinkedIn. Siapa IPO Perusahaan Digital Terbesar Dunia?

Written by  Hari Wijayanto

Kamis 19 Mei 2011, LinkedIn sukses melakukan IPO di lantai bursa efek. Kesuksesan IPO LinkedIn disebut sebagai indikator kesuksesan IPO perusahaan digital lainnya. Beberapa yang sedang mempersiapkan IPO adalah nama-nama besar di dunia bisnis digital seperti Groupon, Facebook, Zynga, Yandex dan Twitter. Di antara nama perusahaan digital tersebut, siapakah yang melakukan IPO terbesar?


Sukses LinkedIn di hari pertama listing di New York Stock Exchange ditunjukan dengan kenaikan saham dengan kode ticker LNKD sebesar 109 persen dari harga perdana USD 45 menjadi USD 94 pada harga penutupan pasar.

Pada debut tersebut, 7,804 juta lembar saham LinkedIn diperdagangkan langsung ke harga USD 80 sebagai harga pembukaan dan bahkan sempat mencapai harga tertinggi, yaitu USD 122. Hal ini merupakan kenaikan tertinggi yang pernah ada dalam rally saham digital sejak dotcom bubble di akhir tahun 1990-an.

Pada hari kedua, Jumat 20 Mei 2011, saham LinkedIn turun menjadi USD 93,09 dari USD 94 pada hari sebelumnya. Dengan harga saham USD 93,09 maka valuasi perusahaan menjadi sekitar USD 8,8 miliar.

Yang menjadi pembicaraan kini bukan tentang LinkedIn lagi. Tetapi siapakah perusahaan digital yang sukses melakukan IPO? Pendekatan valuasi perusahaan akan membuat perbandingan sekaligus proyeksi dengan debut LinkedIn sebagai referensi, dimana valuasi LinkedIn USD 4 miliar (sebelum IPO) dan USD 8,8 miliar (setelah IPO). Berikut daftar valuasi beberapa perusahaan digital:

Twitter USD 7,7 miliar
Yandex USD 9 miliar
Zynga USD 10 miliar
Groupon USD 25 miliar,
Facebook USD 100 miliar


Jika LinkedIn berhasil membuat valuasi perusahaan menjadi dua kali lipat setelah IPO. Apakah perusahaan lainnya juga akan terjadi hal yang sama?
Jika LinkedIn yang hanya bernilai USD 4 miliar sebelum IPO mampu sukses dalam debut IP. Apakah perusahaan lainnya yang memiliki nilai valuasi lebih besar akan juga meraih sukses?

Banyak faktor yang mempengaruhi perdagangan saham, selain kondisi makro ekonomi pada saat IPO juga faktor buyer atau pembeli juga menentukan. Kesuksesan debut suatu perusahaan IPO tidak melulu tergantung dari nilai valuasi perusahaan. Dan valuasi perusahaan bukan menjadi tolak ukur kesuksesan IPO. Tetapi valuasi perusahaan tetap penting diperhatikan untuk melihat fundamental suatu perusahaan.

Sebagai bahan studi kasus, berikut adalah perbandingan antara LinkedIn dengan Yandex dan Google.

Perbandingan antara LinkedIn dengan Yandex dilihat seperti yang dilansir CNN dilihat dari net income atau pendapatan bersih. Yandex tahun 2010 lalu berhasil meraih USD 134 juta, bandingkan dengan LinkedIn yang hanya meraih USD 15 juta.

Perbandingan antara LinkedIn dengan Google menurut BBC dilihat dari revenue. Pada harga USD 100 per lembar saham, LinkedIn diperkirakan mencapai 25x estimasi revenue tahun 2011. Bandingkan dengan Google ketika debut IPO tahun 2004, perusahaan hanya mencapai 6x estimasi revenue.

Dengan kata lain, Yandex jelas menunjukan bahwa bisnis yang dilakukannya lebih menghasilkan dibandingkan LinkedIn. Jika IPO LinkedIn dan Google berhasil, mengapa IPO Yandex tidak?

Siapa Yandex? Yandex adalah mesin pencari dari Rusia. Perusahaan didirikan pada tahun 1997 sebelum Google. Tahun 2010 lalu Yandex menguasai 64 persen mesin pencari di Rusia.

Perkembangan digital investment baik aksi korporasi seperti merger dan akuisisi (M&A) dan penawaran perdana saham di bursa efek atau IPO sudah sangat akrab dengan perusahaan digital dunia. Bagaimana Indonesia?

Indonesia saat ini ditengarai sebagai negara yang menjadi target digital investment. Pertumbuhan jumlah start-up, penyelenggaraan kompetisi antar start-up dan deal investasi kini menjadi topik yang hangat di Indonesia. Tetapi masih jarang start-up yang secara terbuka memiliki cita-cita untuk melakukan debut IPO di bursa efek.

Minim sentimen terhadap sektor teknologi digital di Pasar Modal Indonesia menjadi salah satu faktor sebab belum ada start-up yang IPO di Bursa Efek Indonesia. Faktor lain adalah perbedaan pemahaman tentang seluk beluk investasi di antara founder start-up, baik tentang akuisisi maupun IPO.

Dari sisi fundamental perusahaan, kebanyakan start-up Indonesia saat ini masih belum memiliki model bisnis yang kuat dan memliki kelangsungan bisnis untuk jangka panjang.

Faktor penetrasi internet dibandingkan populasi pendudduk masih kecil, menurut internetworldstats Indonesia memiliki angka 12,5 persen (bandingkan dengan Malaysia 64 persen, Singapore 78 persen, Jepang 78 persen dan Korea Selatan 81 persen).

Kembali ke debut LinkedIn yang sukses. Patut dicermati adalah siapa investment bank di belakang IPO LinkedIn, menurut Bloomberg terdapat nama Morgan Stanley, Bank of America Corp. and JPMorgan Chase & Co. Kemudian venture capital seperti Bain Capital LLC, McGraw- Hill Cos., Goldman Sachs Group Inc., Sequoia Capital, Greylock Partners dan Bessemer Venture Partners

Maka keterlibatan nama-nama yang sama baik investment bank dan venture capital di belakang LinkedIn dan perusahaan digital lain yang akan IPO nanti, tentunya akan mempermudah prediksi bahwa IPO akan sukses atau tidak.

Sambil menunggu siapakah digital startup pertama di Indonesia yang melakukan IPO (mungkin masih sangat lama), kita sama-sama nantikan aksi IPO Twitter, Groupon, Zynga, Yandex dan perusahaan digital lainnya di tahun ini sampai tahun depan. Setelah LinkedIn, maka siapa IPO perusahaan digital terbesar di dunia?

 

Referensi
Rencana IPO LinkedIn Tahun 2011
Jelang IPO, Valuasi LinkedIn Naik
Rencana IPO Groupon USD 15 Miliar di Musim Semi 2011
Goldman Sachs dan Digital Sky Investasi USD 500 Juta di Facebook